BRI Sukses Cetak Laba Konsolidasian Tinggi dan Perluas Jangkauan UMKM Lewat 1,2 Juta AgenBRILink di 67 Ribu Desa

BRI Sukses Cetak Laba Konsolidasian Tinggi dan Perluas Jangkauan UMKM Lewat 1,2 Juta AgenBRILink di 67 Ribu Desa

JAKARTA — Di tengah gejolak ekonomi global yang diwarnai ketegangan geopolitik dan perang tarif, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI tetap mencatatkan kinerja finansial yang tangguh pada kuartal pertama tahun 2025. Laporan keuangan menunjukkan laba bersih konsolidasian sebesar Rp13,8 triliun dan total aset mencapai Rp2.098,23 triliun, tumbuh 5,49% secara year-on-year (yoy).

Dalam konferensi pers yang digelar hari ini, Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, bersama jajaran direksi lain mengungkapkan pencapaian positif ini sebagai hasil strategi yang fokus pada penguatan segmen UMKM dan perluasan layanan digital. “Meskipun tantangan global masih cukup besar, ekonomi domestik kita menunjukkan daya tahan yang baik. Konsumsi dalam negeri masih menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi,” ujar Hery.

BRI tetap optimis dengan potensi pasar dalam negeri yang besar, sehingga efek perang tarif diperkirakan tidak akan terlalu signifikan. “Kami melihat negosiasi dagang Indonesia dan Amerika Serikat sebagai peluang yang dapat memberikan dampak positif,” tambahnya.

Sektor UMKM menjadi fokus utama BRI, terlihat dari penyaluran kredit yang mencapai Rp1.373,66 triliun, naik 4,97% yoy. Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, menyampaikan bahwa sekitar 82% dari total kredit tersebut dialokasikan untuk UMKM. “Program inklusi keuangan kami melalui AgenBRILink yang sudah tersebar di 1,2 juta agen di lebih dari 67 ribu desa membantu masyarakat mengakses layanan keuangan dengan mudah,” jelas Akhmad.

AgenBRILink menunjukkan kinerja impresif dengan nilai transaksi mencapai Rp423 triliun pada kuartal I 2025, tumbuh hampir 50% dibandingkan tahun sebelumnya. Ini menjadi bukti bahwa BRI semakin berhasil menjangkau wilayah terpencil dan memperkuat inklusi keuangan di tanah air.

Dalam hal kualitas kredit, Direktur Manajemen Risiko BRI, Mucharom, mengungkapkan perbaikan signifikan. Rasio NPL turun dari 3,11% menjadi 2,97%, sementara Loan at Risk (LAR) menyusut dari 12,68% menjadi 11,12%. “Dengan NPL Coverage yang sangat kuat di angka 200,60%, kami siap mengantisipasi risiko ekonomi yang mungkin muncul,” jelas Mucharom.

Likuiditas BRI juga mengalami peningkatan sehat. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh hingga Rp1.421,60 triliun dengan proporsi dana murah CASA yang mencapai 65,77%, naik dibandingkan tahun sebelumnya. Direktur Network & Retail Funding, Aquarius Rudianto, mengatakan, “Penguatan CASA menjadi modal penting bagi stabilitas likuiditas kami di tengah tantangan global.”

Ekosistem digital BRI kian diperluas lewat Super App BRImo, yang kini melayani lebih dari 40 juta pengguna aktif, meningkat 20,26% yoy. Transaksi melalui aplikasi ini mencapai 1,2 miliar dengan nilai Rp1.599 triliun, tumbuh hampir 28%. Jaringan merchant digital QRIS dan EDC juga terus berkembang pesat, masing-masing kini memiliki 4,3 juta dan 344 ribu merchant.

Viviana Dyah Ayu, Direktur Finance & Strategy BRI, menambahkan bahwa permodalan bank tetap kokoh dengan CAR sebesar 24,03% dan LDR 86,03%. “Angka ini jauh di atas standar minimum sehingga memberikan ruang bagi BRI untuk terus ekspansi dan beradaptasi dengan perubahan ekonomi global,” katanya.

Menutup acara, Hery Gunardi menyampaikan keyakinan bahwa BRI mampu melanjutkan pertumbuhan positif berkat dukungan lebih dari 36 ribu tenaga pemasar dan jaringan luas yang tersebar di seluruh Indonesia. Jumlah nasabah mencapai 221 juta rekening dengan pengguna layanan korporasi QLola sebanyak 211 ribu.

“Transformasi kami menuju universal banking akan memperkuat layanan mulai dari segmen UMKM hingga korporasi besar, mendukung program pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,” tutup Hery dengan penuh optimisme.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index