Perlukah Berkata “Tolong” dan “Terima Kasih” pada ChatGPT?

Senin, 15 Juni 2026 | 02:22:06 WIB
Ilustrasi - ChatGPT. (Foto: NET)

JAKARTA - Secara tidak sadar, banyak pengguna kerap melontarkan kata "tolong" serta "terima kasih" saat berinteraksi dengan ChatGPT. 

Kebiasaan ini terasa wajar, terutama ketika chatbot kecerdasan buatan (AI) menanggapi dengan tutur kata ramah, mampu mengingat riwayat percakapan, dan terdengar seperti rekan kerja yang siap membantu.

Chatbot AI memang semakin menyatu dalam aktivitas harian, mulai dari menyusun e-mail, meringkas rapat, menunjang riset, hingga membuat keputusan. 

Semakin manusiawi gaya bahasanya, semakin banyak pula orang yang memperlakukannya seperti teman atau lawan bicara sungguhan, alih-alih sebagai perangkat semata. 

Sebuah survei dari Future mencatat, sekitar 70 persen orang bersikap sopan ketika berbicara dengan AI, dengan alasan bahwa tindakan tersebut adalah hal yang sewajarnya dilakukan.

Sebaliknya, para kritikus berpendapat bahwa tambahan kata seperti "tolong" dan "terima kasih" hanya menghabiskan token, energi, serta daya komputasi, sekaligus memicu manusia untuk memproyeksikan perasaan pada sistem yang sebenarnya tidak memiliki emosi. 

Lantas, apakah etika kesantunan membuat AI bekerja lebih optimal? Atau apakah kami justru sedang melatih diri sendiri untuk memperlakukan mesin seperti manusia hingga melupakan batasannya?

Alasan Perlu Bersikap Sopan ke AI Terdapat bukti bahwa kesantunan dapat memperbaiki kualitas respons AI. Riset awal menunjukkan prompt yang santun cenderung menghasilkan jawaban yang lebih rinci, cermat, dan berimbang. 

Sebaliknya, prompt yang kasar atau ketus terkadang memicu jawaban yang lebih singkat dan kurang bermanfaat. Hal ini wajar mengingat model AI dilatih dari bahasa manusia dalam skala besar.

Dalam interaksi antarmanusia, permintaan sopan biasanya muncul dalam konteks di mana seseorang memberikan jawaban yang lebih membantu serta berhati-hati. Sementara itu, bahasa kasar sering muncul dalam konteks jawaban defensif. 

Pola inilah yang diserap oleh AI. Singkatnya, mesin tidak memahami sopan santun, namun pemilihan kata Anda memengaruhi kualitas jawaban yang dihasilkan.

Forbes mencatat bahwa memuji AI sebagai "pintar" dapat mendorongnya berpikir lebih cermat. Selain itu, Microsoft menyarankan pengguna bersikap sopan kepada Copilot agar memperoleh hasil yang lebih kolaboratif. 

Ini bukan berarti AI memiliki ego, melainkan nada bicara menjadi bagian dari instruksi. Selain itu, ada alasan dari sisi pengguna: jika kami terbiasa memberikan perintah kasar kepada sistem, dikhawatirkan kebiasaan itu terbawa hingga membuat kami menjadi kurang sabar saat berinteraksi dengan sesama manusia.

Alasan Tidak Perlu Bersikap Sopan ke AI Argumen sebaliknya juga sama kuat. AI adalah alat, dan memperlakukannya seperti manusia dapat mengaburkan batasan hubungan. 

Kami tidak pernah berkata "tolong" kepada aplikasi pengolah angka, meminta maaf kepada mesin pencari, atau memuji obeng atas kinerjanya. Chatbot mungkin terdengar hangat, tetapi tetaplah perangkat lunak pemroses data.

AI tidak memahami kesopanan, tidak merasa dihormati, maupun tidak merasa tersinggung. Saat pengguna bersikap sopan, kami berisiko memproyeksikan kesadaran pada sistem yang tidak memilikinya. Sekilas terlihat tidak berbahaya, namun hal ini bisa mengubah pandangan orang terhadap teknologi. 

Selain itu, ada masalah efisiensi energi. Karena AI bekerja dalam skala masif, jutaan kata tambahan dari miliaran prompt dapat menimbulkan biaya kumulatif yang besar. 

Meski CEO OpenAI, Sam Altman, menyebut biaya tersebut "sepadan", model AI terbaru sebenarnya lebih mampu mengenali maksud prompt tanpa memerlukan basa-basi. Pendekatan yang lebih efisien adalah menulis prompt yang lugas dan jelas.

Tiap AI Merespons Secara Berbeda Perlu atau tidaknya bersikap sopan juga bergantung pada jenis AI yang digunakan. Setiap sistem dirancang dengan aturan berbeda. 

Grok, misalnya, dikenal lebih provokatif dan bisa membalas dengan nada serupa jika pengguna kasar. ChatGPT umumnya menghindari sikap kasar, sementara Claude sering dianggap lebih berhati-hati.

Bahkan dalam satu produk yang sama, respons AI bisa berubah seiring pembaruan model. Faktor memori juga menambah lapisan baru; saat AI menjadi lebih personal, sistem dapat mengingat preferensi pengguna. 

Walaupun AI tidak bisa menaruh dendam atau memberi hadiah, cara kami berinteraksi tetap memengaruhi pengalaman yang dibangun sistem. Kesimpulannya, AI memang tidak memiliki perasaan untuk tersinggung, meski ia bisa berpura-pura memilikinya.

Halaman :

Terkini