Pasokan China-RI Ketat, Harga Batubara Terancam Melonjak

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:12:01 WIB
Ilustrasi - Pertambangan Batu bara. (Foto: NET)

JAKARTA - Pasar batubara internasional saat ini sedang mengalami penyusutan pasokan yang cukup signifikan. Kondisi tersebut dipicu oleh kombinasi dari hambatan operasional tambang di China, ketidakpastian regulasi ekspor di Indonesia, serta lonjakan kebutuhan energi di kawasan Asia. 

Tekanan ini berisiko memicu lonjakan harga baru, terutama karena sektor energi global masih sensitif akibat ketegangan geopolitik yang terjadi di Timur Tengah.

Kendala paling besar bersumber dari China, di mana insiden kecelakaan tambang yang menelan korban jiwa di wilayah Shanxi—sebagai sentral produksi batubara terbesar di negara tersebut—berbuntut pada pemeriksaan keselamatan berskala masif. 

Imbasnya, ketersediaan batubara domestik di China menjadi sangat terbatas justru di saat kebutuhan musiman sedang merangkak naik.

Pada waktu yang sama, arah kebijakan sektor energi di Indonesia turut menciptakan sentimen ketidakpastian bagi para pelaku pasar. 

Hambatan logistik dan operasional ekspor dari salah satu negara pemasok terbesar dunia ini dikhawatirkan terganggu seiring adanya strategi pemerintah untuk menyatukan manajemen ekspor batubara di bawah badan usaha milik negara yang baru, yaitu Danantara.

Kondisi seretnya pasokan ini mengemuka ketika pasar energi internasional masih belum sepenuhnya pulih dari dampak ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang sempat mengacaukan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. 

Jalur vital yang mengalirkan sekitar seperlima dari total pasokan minyak dan LNG dunia tersebut sempat mengalami hambatan, sehingga memicu peralihan permintaan ke komoditas batubara premium asal Jepang serta Korea Selatan. 

Imbas dari fenomena tersebut, harga batubara acuan Newcastle sempat melonjak mendekati titik tertinggi dalam dua tahun terakhir hingga melewati angka US$ 150 per ton.

Kendati demikian, tren permintaan komoditas ini di tingkat global memperlihatkan pola yang tidak seragam. 

Minat terhadap batubara dengan kalori lebih rendah, yang umumnya disuplai oleh Indonesia, terpantau melemah lantaran China dan India masih memaksimalkan stok internal mereka serta menggenjot pemanfaatan energi terbarukan demi membatasi volume impor. 

Akibat situasi ini, faktor pendorong utama volatilitas pasar lebih didominasi oleh masalah keterbatasan pasokan dibandingkan faktor permintaan.

Volume impor batubara China diproyeksikan melonjak 27,6% pada Juni dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, atau menyentuh angka 27,8 juta ton. 

Kenaikan ini didorong oleh tingginya kebutuhan listrik musiman yang berbarengan dengan penurunan output domestik akibat pengetatan inspeksi keselamatan pasca-insiden di Shanxi.

Secara makro, para analis memprediksi volume ekspor batubara dari Indonesia berpotensi menyusut sekitar 11% pada tahun ini menjadi 446 juta ton sebagai dampak dari penurunan kapasitas produksi dan ketidakpastian regulasi. 

Sepanjang empat bulan pertama tahun ini saja, realisasi produksi batubara nasional terpantau mengalami penurunan sebesar 7% secara tahunan.

Di sisi lain, sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara seperti Vietnam dan Filipina justru meningkatkan pemakaian batubara untuk operasional pembangkit listrik akibat cuaca panas ekstrem dan perluasan jaringan pembangkit. 

Thailand pun diprediksi akan mengerek volume impor karena keterbatasan ketersediaan gas bumi. Analis Rystad Energy memproyeksikan bahwa imbas dari ketegangan di Timur Tengah sendiri dapat memicu tambahan konsumsi batubara di wilayah Asia-Pasifik hingga mencapai 70 juta ton pada tahun 2026. 

Di waktu yang sama, suplai global diproyeksikan merosot 5,7% menjadi 985 juta ton, yang otomatis memperkecil ruang cadangan di pasar energi.

Krisis ini kian diperparah oleh fenomena alam, di mana ancaman El Nino berisiko memangkas output dari pembangkit listrik tenaga air di China, sehingga pemenuhan kebutuhan energi kemungkinan besar akan dialihkan kembali ke pembangkit batubara. 

Sementara itu, negara produsen utama lainnya seperti Rusia tengah didera kendala biaya operasional tinggi dan penurunan performa produksi, sedangkan Australia serta Afrika Selatan dinilai belum mampu menyuplai kekurangan pasar secara konsisten.

Melalui akumulasi gangguan pada sektor produksi, dinamika regulasi ekspor, serta eskalasi kebutuhan musiman di Asia, industri batubara global kini berada pada posisi yang sangat rawan terhadap lonjakan harga dalam kurun waktu dekat.

Terkini