Respons Krom Bank atas Kenaikan BI Rate ke Level 5,50%

Rabu, 17 Juni 2026 | 22:37:01 WIB
Presiden Direktur Krom Bank, Anton Hermawan. (Foto: NET)

JAKARTA - Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 50 bps menjadi 5,50% kini menjadi sorotan bagi para pelaku perbankan digital. 

PT Krom Bank Indonesia Tbk memandang kebijakan bank sentral ini sebagai langkah positif dalam menjaga stabilitas pasar keuangan serta memastikan pengendalian inflasi.

Presiden Direktur Krom Bank, Anton Hermawan, menyampaikan bahwa pihaknya sedang menyusun serangkaian tindakan antisipatif guna merespons dampak kenaikan suku bunga tersebut. 

Prioritas utama bank saat ini adalah memperkuat manajemen risiko untuk mengelola kemungkinan kenaikan biaya dana (cost of fund/CoF).

"Kami akan fokus pada penguatan likuiditas dan penghimpunan dana murah atau CASA agar biaya dana tetap stabil tanpa harus menaikkan bunga kredit secara agresif yang berpotensi menekan margin bunga bersih (NIM)," ujar, pekan lalu.

Hingga kini, ia menuturkan bahwa Krom Bank akan tetap mempertahankan tingkat suku bunga deposito yang berlaku sebagai elemen strategi pengelolaan dana yang pruden. 

Bank secara aktif melakukan benchmarking terhadap kondisi pasar serta pergerakan industri untuk menyeimbangkan antara daya saing penawaran dengan keberlanjutan bisnis.

Terkait profitabilitas, Anton menyatakan bahwa pihaknya masih terus memantau dan menganalisis dampak kenaikan BI Rate lebih jauh. Dalam situasi ini, Krom Bank akan terus meningkatkan penghimpunan dana murah melalui ekosistem digital yang mereka miliki, sembari melakukan penyesuaian demi menjaga kualitas aset. 

Bank menegaskan tetap konsisten menerapkan prinsip kehati-hatian serta manajemen risiko yang ketat dalam penyaluran kredit untuk mengendalikan kredit bermasalah (non-performing loan/NPL).

Anton tidak menampik bahwa kenaikan BI Rate berisiko menekan margin bunga bersih perbankan. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa pihaknya bakal mengutamakan efisiensi biaya dana agar margin bunga tetap stabil sekaligus menjaga daya saing suku bunga kredit.

"Kami mencermati potensi melandainya NIM seiring kenaikan suku bunga acuan. Karena itu, fokus kami adalah menjaga efisiensi biaya dana agar margin tetap terjaga dan suku bunga kredit tetap kompetitif," tutupnya.

Terkini