JAKARTA – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyebut bahwa rehabilitasi dan revitalisasi satuan pendidikan, hasil sinergi dengan TNI AD serta Pemerintah Provinsi Aceh, berhasil memulihkan semangat belajar murid serta guru usai bencana hidrometeorologi di wilayah tersebut.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menekankan pentingnya percepatan pembangunan supaya anak-anak di Aceh bisa segera menempuh pendidikan di ruang kelas yang memadai.
“Kami menargetkan pada tahun ajaran baru 2026/2027 sebagian besar sekolah sudah selesai dibangun. Untuk sekolah yang lokasinya masih dapat digunakan, sebagian besar sudah dibangun, bahkan ada yang telah selesai dikerjakan,” ujar Mendikdasmen Mu’ti dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Ia menambahkan, pemerintah turut menyediakan ruang kelas darurat selama masa konstruksi agar kegiatan belajar tetap berjalan. Senada dengan itu, Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, menegaskan bahwa pemakaian kelas darurat bukan berarti penanganan sekolah terabaikan.
Bukti nyata revitalisasi kini tampak di SMKN 3 Sigli lewat kehadiran Ruang Praktik Siswa (RPS). Sekolah tersebut mendapatkan alokasi bantuan sebesar Rp2,6 miliar pada 2025 serta tambahan Rp1,6 miliar pada 2026.
“Kami sangat bersyukur atas program revitalisasi ini. Sarana dan prasarana yang dibangun sangat mendukung proses pembelajaran, sehingga murid lebih nyaman belajar,” kata Kepala SMKN 3 Sigli, Iskandar.
Di wilayah Aceh, jurusan Teknika Kapal Penangkap Ikan (TKPI) hanya terdapat di tiga sekolah, yakni SMKN 3 Sigli (Pidie), SMK Negeri 1 Jeunieb (Bireun), dan SMKN 4 Langsa (Kota Langsa).
Bagi Iskandar, RPS menjadi fasilitas yang dampaknya sangat dirasakan, terutama untuk membekali siswa menjadi profesional di sektor mesin kapal serta teknologi perikanan.
Murid SMKN 3 Sigli, Fairuz, mengaku bahwa gedung baru membuat suasana belajar lebih nyaman karena ruangan kini lebih luas dan bebas debu. Pandangan serupa disampaikan oleh murid lainnya, Cut Indah Sari.
“Pembangunan gedung ini membuat kami memiliki harapan dan peluang yang lebih besar untuk masa depan. Dengan fasilitas yang lebih baik, kami semakin semangat belajar dan meningkatkan keterampilan,” ujarnya.
Bagi anak-anak Aceh, revitalisasi ini menjadi simbol kebangkitan harapan; bahwa pascabencana, masa depan tetap bisa dirajut dari ruang kelas yang kembali berdiri tegak.