JAKARTA – Direktur Strategi dan Tata Kelola Hilirisasi Kementerian Hilirisasi dan Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Ahmad Faisal Suralaga, menyatakan bahwa Indonesia kini menawarkan peluang investasi pengembangan ekosistem manufaktur baterai nasional dengan nilai mencapai 121 miliar dolar AS.
Dalam gelaran Korea-Indonesia Economic Partnership Forum yang berlangsung di Jakarta pada Rabu, Ahmad menjelaskan bahwa kekayaan sumber daya alam melimpah menjadi modal utama Indonesia sebagai fondasi pembuatan baterai sekaligus ekosistem manufaktur kendaraan listrik.
"Enam bahan utama untuk membuat baterai EV, empat dari mereka berada di Indonesia. Kami memiliki nikel, bauksit, mangan, dan kami memiliki tembaga, yang merupakan material penting dalam jaringan supply baterai EV. Kelebihan ini memberikan Indonesia fondasi yang kuat untuk mengembangkan proses mineral dan material baterai ke manufaktur baterai dan kendaraan elektrik," ujar Ahmad.
Ahmad memaparkan bahwa Indonesia saat ini memegang peranan sebagai produsen nikel terbesar di dunia dengan pangsa 42 persen dari total ketersediaan sumber daya global.
Selain nikel, pemerintah juga telah mengembangkan 28 komoditas lain yang memiliki keunggulan kompetitif lewat strategi hilirisasi. Fokus investasi diarahkan pada pembangunan smelter lanjutan untuk menghasilkan produk bernilai tambah tinggi, hingga manufaktur sel baterai kendaraan listrik (EV Battery).
Melalui langkah ini, Indonesia menargetkan terbangunnya industri baterai kendaraan listrik yang solid, mulai dari penguatan jaringan rantai pasok hingga tahap pengemasan baterai.
"Pada tahun 2045, Indonesia berniat untuk menjadi salah satu dari 5 produser baterai EV di dunia. Ini mungkin karena hilirisasi menciptakan nilai tambahan tertinggi, dan misalnya untuk nikel nilai tambahnya bisa menjadi 67 kali jika kami bisa mengubah nikel menjadi baterai EV," tuturnya.
Selain itu, ekosistem hilirisasi diklaim sebagai modal utama Indonesia untuk menekan biaya produksi dengan memangkas inefisiensi seperti bea ekspor serta pajak, mengingat seluruh sumber daya kini tersedia dalam satu negara.
Dengan pendekatan hilirisasi, Indonesia memproyeksikan total investasi dapat mencapai 618 miliar dolar AS, meningkatkan nilai ekspor hingga 857 miliar dolar AS, serta membuka lebih dari 3 juta lapangan pekerjaan.
Hingga saat ini, investasi di Indonesia masih didominasi sektor mineral senilai Rp98,3 triliun, disusul sektor perkebunan dan kehutanan Rp29,8 triliun, minyak dan gas Rp17,6 triliun, serta sektor kelautan sebesar Rp1,7 triliun.