Peran Fruktosa dalam Buah Manis yang Bisa Memicu Asam Urat

Selasa, 30 Juni 2026 | 04:35:02 WIB
Konsumsi Fruktosa Berlebih Tingkatkan Risiko Asam Urat [FOTO: NET].

JAKARTA - Buah-buahan jamak dikenal sebagai asupan sehat lantaran kaya akan pasokan vitamin, mineral, beserta serat. Kendati demikian, di balik cita rasa manisnya, buah juga mengantongi kandungan fruktosa atau jenis gula alami yang sejatinya wajib dikonsumsi secara bijaksana.

Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Prof. Antonius Suwanto, mengingatkan bahwa mengonsumsi fruktosa secara berlebihan dapat mengeskalasi risiko asam urat hingga memicu gangguan metabolisme. 

Ulasan tersebut diuraikan Prof. Antonius dalam program IPB Podcast yang disiarkan lewat saluran YouTube IPB TV serta dinukil dari situs resmi IPB University, Kamis (25/6/2026).

Alasan Fruktosa Dapat Memantik Asam Urat

Menurut pemaparan Prof. Antonius, fruktosa merupakan sejenis gula sederhana yang melimpah pada buah-buahan, utamanya jenis buah yang bercita rasa teramat manis. Selain bersumber dari buah, fruktosa juga terkandung dalam gula pasir, minuman berpemanis, permen, kue, serta rupa-rupa produk pangan olahan lainnya.

Ia menjabarkan bahwa sistem metabolisme tubuh dalam mengolah fruktosa tidak sama dengan glukosa. "Glukosa digunakan oleh berbagai sel tubuh sebagai sumber energi. Sementara fruktosa, sebagian besarnya dimetabolisme di hati melalui jalur khusus yang membuatnya dapat langsung diubah menjadi lemak," ujar Prof. Antonius.

Metode pengolahan zat fruktosa tersebut memerlukan asupan energi berskala besar yang bersumber dari adenosin trifosfat (ATP). Tatkala ATP terserap secara berlebihan, tubuh bakal menghasilkan elemen turunan yang kemudian dikonversi menjadi asam urat.

"Kalau ada banyak fruktosa dikonsumsi, itu akan dijadikan lemak dan akhirnya akan ada produk sampingnya berupa asam urat," jelas pakar mikrobiologi, bioteknologi, dan genetika molekuler tersebut.

Dengan istilah lain, memakan fruktosa dalam takaran yang berlebih mampu mendongkrak produksi asam urat di dalam tubuh lewat mekanisme metabolisme yang bergulir di organ hati.

Dampak Asam Urat Tidak Melulu Menyasar Persendian

Prof. Antonius menerangkan bahwa senyawa asam urat selama ini kerap kali diidentikkan dengan keluhan nyeri sendi atau gout. Padahal, imbas buruknya tidak mandek sampai di situ saja. Menurut dia, akumulasi asam urat juga sanggup mengikis ketersediaan nitric oxide, yakni suatu senyawa yang memegang andil dalam memelihara fleksibilitas pembuluh darah.

Saat kadar nitric oxide merosot, pembuluh darah dapat berubah menjadi lebih kaku, sehingga berpeluang memicu lonjakan tekanan darah. 

Situasi ini membikin kenaikan asam urat tidak hanya berkorelasi dengan problem persendian, melainkan juga berpotensi mengganggu kesehatan metabolik serta kardiovaskular seseorang. Oleh karena itu, konsumsi pangan dan minuman yang mengadopsi fruktosa wajib dicermati agar tidak melampaui batas wajar.

Dahulu Berfungsi Bertahan Hidup, Kini Memicu Masalah

Prof. Antonius mengutarakan bahwa kapabilitas tubuh dalam mengubah fruktosa menjadi cadangan lemak sejatinya merupakan sebuah mekanisme evolusi yang menyokong pertahanan hidup manusia pada zaman purba. 

Ketika ketersediaan pangan masih langka dan buah-buahan hanya tumbuh pada musim-musim tertentu, tubuh bakal menimbun energi dalam rupa lemak untuk dimanfaatkan tatkala makanan sulit didapatkan. Tabungan lemak tersebut menjadi sumber energi yang krusial demi menyambung kehidupan.

Namun, realitas kehidupan saat ini sudah bertolak belakang. Menurut Prof. Antonius, manusia modern bisa dengan amat gampang menjumpai aneka sumber fruktosa hampir saban hari, baik yang berasal dari buah, minuman manis, maupun kuliner olahan.

 "Dengan kondisi manusia sekarang ada banyak sumber fruktosa di mana-mana. Kalau tidak mengonsumsinya dengan lebih bijaksana, yang tadinya untuk survival malah bisa menyebabkan penyakit," katanya.

Tetap Boleh Mengonsumsi Buah, Namun Batasi Porsinya

Meskipun mewanti-wanti perihal bahaya konsumsi fruktosa secara berlebih, Prof. Antonius sama sekali tidak mengimbau masyarakat untuk menjauhi buah-buahan. Ia menitikberatkan esensi pentingnya menyantap buah serta pangan manis dalam porsi yang seimbang.

Menurut dia, pola konsumsi yang bijak sanggup membantu meredam risiko rupa-rupa problem kesehatan, termasuk penyakit asam urat, tekanan darah tinggi (hipertensi), obesitas, hingga problem metabolisme lainnya. Oleh sebab itu, masyarakat direkomendasikan untuk tetap memposisikan buah sebagai bagian dari menu makanan sehari-hari, namun dengan tetap mengontrol volume konsumsinya agar faedah yang didapat bisa lebih optimal ketimbang risikonya.

Terkini