Peternak Ayam di Kota Batu Kurangi Populasi demi Bertahan

Rabu, 01 Juli 2026 | 22:14:31 WIB
Harga Telur Anjlok, Peternak di Batu Jual Ayam Afkir Murah [FOTO: NET].

JAKARTA - Kemerosotan harga telur ayam ras yang terus berlangsung sepanjang hampir satu bulan ke belakang memicu kecemasan akan risiko kebangkrutan bagi para peternak di Kota Batu, Jawa Timur. 

Demi menjaga kelangsungan usahanya, mereka terpaksa memangkas populasi ayam petelur dengan mengomersialkan ayam afkir atau ayam usia tua yang sudah tidak lagi produktif.

Situasi pelik tersebut dialami oleh pemilik ASegg Farm di wilayah Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Sotya Hanief. 

Dari kapasitas awal yang memelihara kisaran 1.000 ekor ayam petelur, kini jumlahnya hanya tersisa sekitar 800 ekor setelah dirinya melangsungkan proses pengafkiran terhadap 200 ekor ayam secara bertahap.

"Terpaksa diafkir untuk mengurangi beban operasional. Kalau kondisi seperti ini terus, kami juga tidak tahu sampai kapan bisa bertahan," kata Sotya saat ditemui, Rabu (1/7/2026).

Pada setiap harinya, volume produksi telur di area kandangnya mampu menyentuh angka 5 peti. Akan tetapi, nilai jual telur di tingkat peternak yang saat ini hanya berada di rentang Rp18.000 hingga Rp19.000 per kilogram menjadikan omzet penjualan tidak mampu mencukupi biaya operasional harian.

Berdasarkan penilaian Sotya, kemunduran ini dipicu oleh lesunya daya beli masyarakat yang bertepatan dengan datangnya bulan Suro dalam kalender Jawa serta masa libur sekolah. 

Di sisi lain, tingkat produksi telur yang melimpah imbas melonjaknya populasi ayam petelur membuat nilai jual komoditas tersebut semakin tertekan.

"Yang paling berpengaruh itu daya beli masyarakat turun, ditambah overpopulasi sehingga produksi telur berlebih. Ini yang menyebabkan harga telur jatuh," ujarnya.

Guna meminimalkan potensi kerugian, Sotya memilih kebijakan untuk tidak menambah populasi ayam baru dan konsisten melangsungkan pengafkiran berkala. 

Langkah ini ditempuh demi mengurangi kuantitas hewan ternak sehingga pengeluaran untuk pemeliharaan dapat dipangkas sembari menanti momentum harga telur kembali stabil.

Kendati demikian, menurut pemaparan Sotya, pilihan tersebut bukan berarti tanpa risiko tambahan. Nilai jual untuk ayam afkir itu sendiri ikut merosot tajam lantaran banyak pelaku usaha ternak lain yang menerapkan strategi serupa.

 Dia membandingkan, sewaktu momen Idul Adha lalu harga ayam afkir masih berada di kisaran Rp20.000 per kilogram, namun saat ini nilainya menyusut ke angka Rp13.000 hingga Rp15.000 per kilogram.

“Tapi mau gimana lagi, satu-satunya cara untuk menekan biaya operasional ya dengan cara afkir, meskipun harga ayam afkir juga anjlok karena banyak peternak yang afkir juga,” ungkapnya.

Bagaimanapun, menurut pandangan Sotya, melepas ayam afkir ke pasar tetap menjadi alternatif rasional yang harus dipilih ketimbang membiarkan populasi ayam tetap utuh di tengah kondisi nilai jual telur yang belum memperlihatkan tanda-tanda pemulihan.

"Kami juga tidak berani menambah populasi karena tidak tahu kondisi harga murah ini akan berlangsung sampai kapan," katanya.

Sotya mengutarakan bahwa komunitas peternak pada dasarnya telah terbiasa menghadapi dinamika naik-turunnya nilai jual telur. Ketika iklim pasar sedang menguntungkan, sebagian hasil keuntungan biasanya dialokasikan sebagai dana cadangan untuk mengantisipasi masa-masa sepi pembeli seperti pada bulan Suro.

"Dulu pernah turun juga, tapi kali ini lama sekali. Hampir sama beratnya seperti saat pandemi Covid-19," ujarnya.

Para peternak di wilayah Kota Batu menaruh harapan besar agar roda perekonomian dapat segera bangkit sehingga level konsumsi masyarakat bisa kembali normal dan nilai jual telur berangsur-angsur membaik. Dengan demikian, mereka dapat kembali memutar roda usahanya tanpa terus-menerus dibayangi oleh risiko gulung tikar.

"Harapannya ekonomi membaik, harga pakan normal, dan harga telur mengikuti biaya produksi supaya peternak tidak terus merugi," pungkas Sotya.

Terkini