IHSG Anjlok 34,74%, Saham SMMA Jadi Penopang & DSSA Penekan Utama

Rabu, 01 Juli 2026 | 23:18:32 WIB
Daftar 10 Saham Penopang dan Penekan IHSG Selama Semester I/2026 [FOTO: NET].

JAKARTA — Di kala terjadinya guncangan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang merosot hingga 34,74% di sepanjang paruh pertama atau semester I/2026, beberapa saham terpantau masih sanggup menjadi penyangga laju indeks.

 Sinar Mas Multiartha (SMMA) tampil sebagai motor penguat terbesar, sementara itu Dian Swastatika Sentosa (DSSA) menempati posisi sebagai jangkar pelemahan utama bagi IHSG.

IHSG menyudahi perjalanan bursa di semester I/2026 pada level 5.643,19 atau mengalami penurunan sedalam 34,74% secara year-to-date (YTD) hingga tanggal 30 Juni 2026. 

Merujuk data resmi Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI), Sinar Mas Multiartha (SMMA) mengukuhkan diri sebagai penyumbang daya daki tertinggi bagi IHSG sepanjang tahun berjalan ini lewat gelontoran 51,39 poin, beriringan dengan nilai sahamnya yang melesat 50,86% secara YTD.

Di peringkat berikutnya bertengger Capital Financial Indonesia (CASA) dengan donasi 9,97 poin, diikuti oleh Alamtri Resources Indonesia (ADRO) senilai 8,55 poin, Bank Mega (MEGA) sebesar 7,12 poin, serta Mitra Adiperkasa (MAPI) yang menyumbangkan stimulus 6,57 poin bagi pergerakan indeks.

 Emiten lain yang turut menyuntikkan kontribusi positif meliputi Merdeka Copper Gold (MDKA), Bhakti Multi Artha (BHAT), Adaro Andalan Indonesia (AADI), Bintang Oto Global (BOGA), serta Bank Danamon Indonesia (BDMN).

Top 10 Saham Penopang IHSG Semester I/2026

EmitenKontribusi ke IHSGKinerja Saham YTDSMMA+51,39 poin+50,86%CASA+9,97 poin+11,80%ADRO+8,55 poin+24,86%MEGA+7,12 poin+19,58%MAPI+6,57 poin+30,90%MDKA+3,67 poin+6,14%BHAT+3,45 poin+38,28%AADI+2,50 poin+11,47%BOGA+2,32 poin+34,53%BDMN+2,09 poin+51,82%

Di sudut yang berlawanan, hantaman keras terhadap IHSG justru bersumber dari deretan saham yang memiliki kapitalisasi pasar besar (big caps). Dian Swastatika Sentosa (DSSA) menjadi faktor penahan indeks paling berat dengan sumbangsih negatif mencapai 286,57 poin, sejalan dengan kemerosotan harga sahamnya yang anjlok 80,32% secara YTD.

Mengekor di belakang DSSA, guncangan hebat berikutnya disebabkan oleh Barito Renewables Energy (BREN) yang memangkas bobot IHSG sebesar 244,39 poin, Bank Central Asia (BBCA) senilai 238,27 poin, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) sebesar 145,96 poin, serta Telkom Indonesia (TLKM) yang menguras 118,30 poin. 

Tekanan ke bawah terhadap laju indeks ini juga ikut diperparah oleh aksi jual pada saham Barito Pacific (BRPT), Chandra Asri Pacific (TPIA), Amman Mineral Internasional (AMMN), MD Pictures (FILM), serta Bank Mandiri (BMRI).

Bukan cuma IHSG, barisan indeks acuan utama lainnya di lantai bursa pun kompak mencatatkan rapor merah di sepanjang semester I/2026. Indeks LQ45 terpangkas 34,67%, IDX30 melorot 28,12%, sementara itu indeks IDX80 mengalami pukulan paling telak dengan penurunan sebesar 37,54%.

 Pada rentang waktu tersebut, pemodal asing juga membukukan aksi jual bersih (net sell) dengan akumulasi masif senilai Rp73,61 triliun, merefleksikan derasnya arus modal yang keluar meninggalkan pasar saham domestik.

Top 10 Saham Penekan IHSG Semester I/2026

EmitenKontribusi ke IHSGKinerja Saham YTDDSSA-286,57 poin-80,32%BREN-244,39 poin-68,14%BBCA-238,27 poin-31,27%BBRI-145,96 poin-25,41%TLKM-118,30 poin-32,47%BRPT-113,76 poin-60,70%TPIA-110,66 poin-76,36%AMMN-100,95 poin-51,75%FILM-100,22 poin-89,28%BMRI-97,58 poin-24,51%

Penyebab IHSG Terkoreksi

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan, menyebutkan bahwa kejatuhan tajam IHSG dipicu oleh perpaduan empat elemen yang mengerek naik premi risiko (risk premium) Indonesia di pandangan kalangan investor global. 

Berdasarkan pemaparannya, faktor pertama dipicu oleh kenaikan risiko fiskal konsekuensi dari melesatnya harga minyak mentah dunia akibat ketegangan geopolitik Amerika Serikat dan Iran. Sebagai negara pengimpor minyak bersih (net importer), kondisi Indonesia dipandang rawan terhadap inflasi harga energi.

Faktor kedua berakar dari menyusutnya kepastian regulasi dari jajaran pemerintah, termasuk kebijakan royalti sektor pertambangan yang mengalami revisi berulang-ulang serta mencuatnya rencana sistem ekspor satu pintu. 

Ketiga, sematan outlook negatif atas instrumen utang pemerintah dari lembaga pemeringkat internasional sekelas Moody's dan Fitch Ratings turut memperkeruh sentimen pemodal. 

Sementara faktor keempat bersumber dari langkah MSCI yang mendepak enam saham berkapitalisasi raksasa Indonesia dari daftar indeks acuannya.

"Arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia yang mencapai sepanjang tahun ini mencerminkan proses pengurangan risiko (de-risking) oleh investor asing," ujar Erindra.

Di sisi lain, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memberikan pandangan bahwa tren pelemahan IHSG ini lebih dominan dipengaruhi oleh persoalan internal dalam negeri ketimbang sentimen global. 

Penjelasannya didasarkan pada fakta bahwa saat pasar saham Indonesia terperosok cukup dalam, beberapa bursa di kawasan regional Asia justru sanggup bertahan bahkan membukukan penguatan di tengah pusaran ketidakpastian geopolitik.

"Pasar modal Indonesia sedang dihukum investor global bukan karena ekonominya tidak tumbuh, melainkan karena masalah transparansi kepemilikan saham (free float) yang disorot MSCI serta kekhawatiran atas disiplin anggaran fiskal," kata Nafan.

Terkini