Emas Diproyeksi Reli Lagi ke US$4.800 di Akhir 2026

Kamis, 02 Juli 2026 | 23:54:32 WIB
Ilustrasi - Penguatan harga emas dunia. (Foto: NET)

JAKARTA – Proyeksi penguatan harga emas dunia diperkirakan akan kembali berlanjut pada paruh kedua tahun 2026. Setelah sempat tertekan sepanjang enam bulan pertama tahun ini, komoditas logam mulia tersebut diprediksi melaju lagi berkat dorongan dari berbagai sentimen global.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penurunan harga emas global pada paruh pertama 2026 lebih dipicu oleh keperkasaan mata uang dolar AS serta aksi ambil untung (profit taking) setelah emas mencetak reli tinggi dalam beberapa tahun terakhir. 

Berdasarkan data dari Trading Economics, harga emas bergerak turun dari level US$4.446 di awal tahun menuju level US$4.031,4 pada perdagangan kemarin. Tren pergerakan harga emas sepanjang tahun ini memang tampak kontras jika dibandingkan dengan pencapaian pada tahun 2025.

”Saya melihat sementara ini terjadi aksi ambil untung besar-besaran karena kenaikannya spektakuler ya. Jadi biarpun dihitung harga sekarang pun masih double dibandingkan dua tahun lalu,” katanya saat ditemui di Jakarta, Kamis (2/7/2026).

Di samping itu, maraknya fenomena demam kecerdasan buatan (AI booming) turut andil dalam menekan harga emas belakangan ini. Banyak pelaku pasar dilaporkan mengalihkan modal mereka ke sektor teknologi yang menawarkan narasi pertumbuhan tinggi belakangan ini. 

Kendati demikian, emas dinilai masih memiliki ruang penguatan hingga tutup tahun 2026. Kebijakan bank sentral AS (The Fed) yang cenderung ketat (hawkish) serta eskalasi ketegangan geopolitik antara Iran dan AS menjadi fondasi utama bagi ramalan penguatan ini.

”Saya melihatnya masih ada kemungkinan besar ke sekitar US$4.600—US$4.800. Jadi tetap di bawah US$5.000 untuk perkembangan saat ini. Kami bisa lihat kalau The Fed juga masih tetap hawkish, ekspektasi suku bunga malah terus naik,” katanya.

Melihat bayang-bayang risiko inflasi global, para investor saat ini cenderung lebih selektif dan waspada dalam mengoleksi emas sebagai aset aman (safe haven). Sikap ini wajar mengingat posisi harga emas yang sudah melambung jauh dibanding dua tahun lalu. 

Meski demikian, Lukman memandang otoritas bank sentral di berbagai negara masih akan tetap konsisten memborong emas dalam bentuk fisik, sehingga serapan pasar ke depan diperkirakan tetap kuat.

”Kalau kami mengharapkan kenaikan spektakuler seperti sebelumnya, mungkin tidak akan terjadi. Tapi semuanya bisa terjadi, soalnya permintaan bank sentral masih akan tetap support, tetapi dari sana idealnya harga emas akan naik secara bertahap, tidak seperti dua tahun terakhir,” tegasnya.

Terkini