Rupiah Tertekan ke Rp17.995 per Dolar AS Imbas Data Ekonomi AS

Kamis, 02 Juli 2026 | 00:14:01 WIB
Ilustrasi - Nilai tukar rupiah. (Foto: NET)

JAKARTA — Pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari Kamis (2/7/2026) diperkirakan masih terbebani oleh sikap antisipasi para pelaku pasar yang menantikan perilisan beberapa data ekonomi Amerika Serikat serta pidato dari pejabat sentral bank AS, The Federal Reserve. 

Pada penutupan perdagangan hari Rabu (1/7/2026) sebelumnya, mata uang garuda mencatatkan penurunan hingga menyentuh posisi Rp17.950 per dolar AS. Tren pelemahan ini pun melanda mayoritas mata uang di kawasan Asia akibat keperkasaan dolar AS.

Berdasarkan informasi dari RTI Infokom, yuan China melemah 0,16%, dolar Hong Kong terpangkas 0,01%, yen Jepang turun 0,07%, won Korea Selatan merosot 0,19%, dolar Singapura melemah 0,21%, baht Thailand terkoreksi 0,21%, dan dolar Taiwan mengalami penurunan sebesar 0,15%.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai bahwa kemerosotan nilai tukar rupiah beserta mata uang Asia lainnya disebabkan oleh kokohnya data ketenagakerjaan AS yang melampaui prediksi, sehingga memicu ekspektasi pelaku pasar bahwa pejabat The Fed akan tetap bersikap hawkish. 

Dari faktor internal, performa perdagangan luar negeri Indonesia yang kurang memuaskan ikut memberi dampak negatif bagi pergerakan rupiah. Berkurangnya volume ekspor serta terjadinya defisit neraca perdagangan untuk pertama kalinya sejak April 2020 kian memberatkan posisi mata uang domestik.

Untuk sesi perdagangan hari ini, Lukman memaparkan bahwa fokus para investor akan tersita pada pidato pejabat The Fed, Christopher Warsh, dan perilisan data aktivitas manufaktur AS (ISM Manufacturing). 

Selain itu, dinamika perundingan damai antara AS dan Iran yang digelar di Qatar tetap menjadi perhatian pasar. 

Di waktu yang sama, pelaku pasar diproyeksikan bakal membatasi investasi mereka pada aset-aset negara berkembang menjelang keluarnya data ketenagakerjaan AS, terutama Nonfarm Payrolls (NFP), yang diposisikan sebagai barometer utama arah kebijakan moneter bank sentral AS.

"Laju rupiah diperkirakan berada pada kisaran Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS," ujar Lukman.

Di pihak lain, pengamat pasar mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memprediksi rupiah masih berisiko melanjutkan tren penurunan pada perdagangan hari ini dalam rentang pergerakan antara Rp17.950 sampai Rp18.010 per dolar AS. 

Menurut analisis Ibrahim, faktor penggerak utama yang membayangi rupiah datang dari ketidakjelasan hasil negosiasi damai AS-Iran. Kondisi tersebut menjaga premi risiko geopolitik di pasar tetap tinggi, meskipun volume produksi minyak mentah AS sukses menyentuh rekor tertinggi dan memperkuat proyeksi suplai global.

Selain itu, para pelaku pasar tengah menunggu rangkaian laporan ketenagakerjaan AS guna membaca arah kebijakan suku bunga The Fed. Laporan dari JOLTS memperlihatkan bahwa total lowongan pekerjaan naik ke angka 7,594 juta pada bulan Mei, melebihi ekspektasi pasar yang berada di angka 7,3 juta. 

Perhatian para penanam modal pada perdagangan hari ini selanjutnya akan terarah pada rilis data perubahan tenaga kerja ADP serta laporan Nonfarm Payrolls (NFP) yang dikeluarkan lebih cepat karena waktu perdagangan di AS terpangkas menjelang libur nasional. 

Rangkaian data ini diproyeksikan menjadi pendorong utama yang akan mengarahkan nilai dolar AS dan rupiah dalam jangka pendek.

Memasuki akhir perdagangan hari Kamis (2/7/2026), mata uang rupiah akhirnya mendarat di zona merah pada posisi Rp17.995 per dolar AS. Rupiah menderita penurunan ini bersama dengan beberapa mata uang Asia lainnya. 

Merujuk data dari RTI Infokom, pergerakan mata uang di Asia ditutup bervariasi; yuan China berhasil menguat 0,06%, dolar Hong Kong melemah 0,01%, yen Jepang menguat 0,84%, won Korea menanjak 0,69%, dolar Taiwan turun 0,07%, dolar Singapura naik 0,20%, dan baht Thailand terapresiasi sebesar 0,09%.

Ibrahim Assuaibi menerangkan bahwa sentimen dari skala global bersumber dari Qatar yang mengabarkan bahwa Iran dan AS telah membuahkan perkembangan yang baik dalam negosiasi tidak langsung yang rampung pada hari Rabu dengan fokus pembahasan di Selat Hormuz. 

Sejumlah sumber menyebutkan bahwa para delegasi dari AS dan Iran menghabiskan waktu dua hari di Doha demi menegosiasikan jalur pelayaran maritim di Selat Hormuz beserta pencairan dana milik Iran. 

Walaupun jalur pelayaran telah pulih sebagian, kedua pihak sempat saling melempar serangan pada akhir pekan lalu menyusul aksi gempuran Iran terhadap kapal kargo.

Di samping itu, para pelaku pasar saat ini mengalkulasi adanya peluang sebesar 67% untuk kenaikan suku bunga pada rapat The Fed bulan September nanti berdasarkan data CME FedWatch Tool. 

Sebagai instrumen investasi yang tidak membagikan imbal hasil, komoditas emas biasanya menorehkan performa positif dalam situasi suku bunga rendah karena mampu menekan biaya peluang dalam menyimpan logam mulia tersebut.

Dari aspek data makro, laporan Perubahan Ketenagakerjaan ADP memperlihatkan penyerapan tenaga kerja sektor swasta hanya bertambah 98.000 pada bulan Juni, lebih rendah dari prediksi pasar sebesar 113.000 dan melandai jika dibandingkan dengan pertumbuhan bulan Mei yang menyentuh angka 122.000. 

Sementara itu, Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur ISM melosot ke level 53,3 pada bulan Juni dari posisi 54,0 di bulan Mei, berada di bawah estimasi pasar yang mematok angka 54,0.

Kini, atensi pasar beralih sepenuhnya pada perilisan data Nonfarm Payrolls AS nanti malam, dengan ekspektasi adanya penambahan tenaga kerja baru sebesar 110.000 dalam perekonomian AS, sementara Tingkat Pengangguran diproyeksikan bertahan di level 4,3%. 

Dari ranah domestik, tingkat kepercayaan para pelaku pasar terhadap situasi di Indonesia dinilai sedang melewati tantangan yang cukup berat selepas mencuatnya rentetan sentimen negatif.

Sebelum ditutup di posisi Rp17.995, dinamika pelemahan rupiah sudah terlihat sejak pagi hari. Berdasarkan data dari IDX Mobile pada pukul 09.05 WIB, mata uang rupiah langsung dibuka melemah sebesar 36 poin atau 0,2% menuju level Rp17.969 per dolar AS. 

Memasuki siang hari pukul 12.06 WIB, nilai tukar rupiah kian terperosok dengan pelemahan sebesar 48 poin atau 0,27% ke posisi Rp17.981 per dolar AS, walaupun pada saat yang sama indeks dolar AS terpantau melemah tipis 0,07% atau 0,07 poin ke level 101,32. 

Tekanan terus berlanjut hingga pukul 14.00 WIB, di mana rupiah tercatat jatuh hingga 52 poin atau merosot sebesar 0,29% ke level Rp17.985 per dolar AS sebelum berakhir di posisi penutupan sore hari.

Terkini