JAKARTA - Sebuah toko dari merek perlengkapan outdoor asal Indonesia, Eiger, sukses berdiri sejak tahun 2023 di Interlaken, sebuah kota wisata yang padat oleh turis di Provinsi Bern, Swiss.
Berada tepat di bawah kaki pegunungan Alpen yang menyajikan panorama indah, toko Eiger ini beroperasi berdampingan dengan berbagai merek outdoor ternama dunia, baik yang asli Swiss seperti Mammut, On, dan Victorinox, maupun yang berasal dari Amerika Serikat seperti The North Face dan Columbia.
Dalam rangkaian peringatan 75 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Swiss, jurnalis dari Kompas Gramedia Grup (KG Media) berkesempatan mengunjungi toko tersebut pada 27 Juni 2026.
Suasana di dalam toko Eiger yang sejuk karena dilengkapi pendingin ruangan menjadi daya tarik tersendiri di tengah gelombang panas yang melanda Swiss. Selain itu, toko ini juga menyajikan kopi khas Indonesia dengan dekorasi latar belakang berupa peta Indonesia.
Manajer Toko Eiger Interlaken, Yan Lee, mengungkapkan bahwa dirinya baru bergabung sekitar 1,5 tahun yang lalu. Ia menjelaskan bahwa semua barang utama yang dipajang di toko tersebut merupakan produk buatan Indonesia.
Meski demikian, mereka juga menyediakan kaus suvenir berdesain khusus gambar Interlaken yang hanya dapat dibeli di toko Swiss tersebut.
Menurut Yan Lee, daya tarik Eiger bagi para wisatawan di Interlaken terletak pada kualitas produknya yang memikat. Banyak turis yang mengira bahwa Eiger adalah produk asli Swiss karena namanya yang identik dengan salah satu puncak gunung di pegunungan Alpen.
Produk yang paling diminati oleh pembeli di sana adalah tas punggung. Yan dibantu oleh satu orang staf dalam mengelola toko, dan ia menjelaskan bahwa aturan ketenagakerjaan di Swiss sangat ketat sehingga pekerja di sana tidak harus berasal dari Indonesia.
Ia juga menambahkan bahwa meskipun baru sekali berkunjung ke Indonesia, mereka selalu siap sedia memberikan informasi bagi pengunjung yang bertanya mengenai Indonesia.
Produk tas punggung yang menjadi barang terlaris di toko tersebut dipasarkan dengan harga mulai dari 85 franc Swiss atau berkisar Rp 1,9 juta. Untuk produk pakaian outdoor lainnya seperti kaus, harga jualnya dimulai dari 20 franc Swiss atau sekitar Rp 450.000. Ketika kunjungan berlangsung, tampak beberapa wisatawan internasional, termasuk dari Filipina dan Eropa, meramaikan toko karena tertarik dengan pajangan di etalase. Keberadaan Eiger di Interlaken ini menjadi representasi nyata dari keberhasilan merek lokal Indonesia dalam menembus pasar internasional.
Merespons langkah ekspansi tersebut, Francis Wanandi selaku Ketua Kadin Indonesia untuk Swiss dan Liechtenstein menyatakan bahwa para pelaku usaha di Indonesia sudah saatnya melihat pasar global sebagai bagian dari rencana jangka panjang mereka.
Ia mengingatkan agar pelaku usaha tidak cepat puas hanya karena memiliki pasar domestik yang besar, mengingat persaingan di dalam negeri akan semakin ketat di masa depan.
"One day Indonesia juga akan cluttered. Kalau kita tidak memikirkan dari sekarang menjadi produk-produk yang berbasis dunia atau internasional, lama-lama kita akan dimakan," ujar Francis.
Francis menilai langkah yang diambil oleh Eiger merupakan bentuk investasi masa depan yang sangat baik dalam hal ekspansi luar negeri. Menurutnya, keberlanjutan sebuah bisnis tidak dapat dicapai jika hanya bersandar pada kebijakan perlindungan di dalam negeri, melainkan harus berani ikut bersaing di ranah internasional.
"Yang sustainable, in the end kita tidak bisa hanya protectionism di dalam negeri. Kita juga bisa menjadi global player."
Ia kemudian memberikan perbandingan dengan negara Singapura yang memiliki wilayah geografis kecil namun mampu melahirkan produk-produk yang populer di skala internasional.
Francis menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi produk berkualitas yang melimpah, sehingga faktor penentu utamanya kini berada pada keberanian para pengusaha untuk menembus pasar global.
"Singapura terpaksa harus keluar karena negaranya terlalu kecil. Tapi berhasil menjadi pemain dunia. Indonesia juga jangan karena kita domestik yang besar, sehingga melupakan pasar internasional yang harus kami besarkan."
Francis berkeyakinan bahwa produk-produk buatan Indonesia memiliki daya saing yang kuat di pasar dunia asalkan ada tekad untuk melakukan ekspansi.
Ia mencontohkan produk balsem asal Singapura, Tiger Balm, yang bisa tersebar luas di berbagai negara meski negara asalnya minim sumber daya. Padahal, Indonesia dinilai mempunyai produk serupa untuk daerah tropis dengan variasi dan kualitas yang jauh lebih unggul.
"Singapura enggak punya apa-apa, tapi produknya mulai dari Tiger Balm ada di mana-mana. Padahal kami punya produk sejenis untuk tropical yang jauh lebih banyak dan lebih bagus kualitasnya. Tinggal masalah keberanian."