Menpora: Ajang Maraton dan MotoGP Dorong Ekonomi Triliunan Rupiah

Sabtu, 04 Juli 2026 | 23:00:01 WIB
Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir. (Foto: NET)

JAKARTA — Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menyatakan bahwa pelaksanaan berbagai kompetisi olahraga, baik di tingkat nasional maupun internasional, terbukti memberikan kontribusi ekonomi secara konkret bagi daerah. 

Menurut pandangannya, kegiatan olahraga mampu menstimulasi pertumbuhan sektor perhotelan, kuliner, pelaku usaha mikro, hingga investasi di bidang pariwisata.

Saat berbicara dalam Konferensi Pers bertajuk Penguatan Ekosistem Olahraga Nasional dan Kepercayaan Dunia terhadap Indonesia sebagai Tuan Rumah Ajang Internasional di Kantor Bakom RI, Kamis (2/7/2026), Erick menyoroti perkembangan pesat tren olahraga lari yang saat ini bertransformasi menjadi salah satu penggerak ekonomi baru. 

Ia memaparkan bahwa kini ada sekitar 104 kegiatan maraton yang diselenggarakan di pelbagai wilayah Indonesia dengan total partisipan menembus 10,4 juta pelari.

"Bayangkan berapa transaksi sepatu larinya. Kalau saya lihat sekarang beberapa pameran olahraga, sudah banyak mulai brand lokal," ujar Erick.

Berdasarkan penilaiannya, semarak olahraga lari tidak sekadar memacu pertumbuhan industri perlengkapan olahraga semata, melainkan juga memutar roda perekonomian di daerah karena mayoritas kegiatan maraton dilangsungkan pada akhir pekan. 

Erick menguraikan bahwa kota-kota yang selama ini bukan menjadi destinasi wisata utama pun turut merasakan insentif ekonomi dari pergelaran acara lari tersebut.

"Kalau maraton ini weekend. Jadi kota-kota besar yang bukan tujuan wisata seperti Jakarta, Medan, kemarin di Malang, hotelnya penuh," katanya.

Ia mencontohkan, perlombaan maraton di Bandung sanggup memikat sekitar 15.000 sampai 20.000 peserta, sedangkan kompetisi lari di Mandalika yang disokong oleh merek nasional diprediksi diikuti oleh sekitar 10.000 pelari. 

Lewat pemenuhan kuantitas peserta tersebut, permintaan terhadap akomodasi, konsumsi, hingga sarana transportasi secara otomatis merangkak naik.

"Kan harus cari hotel. Dan biasanya habis lari makan. Ini perputaran ekonomi yang kadang-kadang kami lupakan," ujarnya.

Bukan hanya ajang lari, Erick turut menggarisbawahi kontribusi ekonomi dari pelaksanaan MotoGP Mandalika yang dinilainya telah menciptakan efek multiplikasi bagi kawasan Lombok. Ia mengutarakan bahwa angka perputaran ekonomi dari MotoGP sekarang sudah menyentuh kisaran Rp4,9 triliun.

"Kalau kami sekarang ke Mandalika, restoran sudah mulai banyak. Di pesisir kota Mandalika orang investasi vila sudah mulai banyak," katanya.

Menurut Erick, eksistensi kompetisi balap kelas dunia tersebut tidak cuma mengundang pelancong untuk menonton balapan, tetapi juga memicu pergerakan wisatawan ke pelbagai objek wisata lain di wilayah sekitarnya. 

Ia menjabarkan bahwa para wisatawan yang mengunjungi Mandalika juga menyempatkan diri mendatangi daerah seperti Gili Trawangan, destinasi wisata religi, hingga situs-situs bersejarah yang ada di Lombok.

"Ketika ada yang namanya MotoGP, nanti atraksi wisata lainnya akan terisi," ujarnya.

Erick juga mengulas tentang ketatnya rivalitas antarnegara dalam memperebutkan hak kekosongan sebagai penyelenggara ajang olahraga internasional. Menurut dia, Malaysia kembali bertindak sebagai pemegang hak tuan rumah MotoGP, sementara Singapura sempat menggulirkan Formula 1 pada waktu yang berdekatan dengan pelaksanaan MotoGP Mandalika. 

Kondisi ini, dalam pandangannya, mengindikasikan betapa besarnya potensi pasar Indonesia yang senantiasa menjadi target operasi para promotor kegiatan olahraga global.

"Market kami besar, makanya ditabrak event besar kami dengan event besar lain," katanya.

Di samping olahraga yang bersifat kompetisi, Erick berpendapat bahwa Indonesia mempunyai prospek cerah dalam memperluas cakupan sport tourism berbasis alam, seperti selancar (surfing) serta pendakian gunung (hiking). 

Ia memaparkan Indonesia memiliki beberapa lokasi selancar level dunia, salah satunya di Banyuwangi serta Krui, Lampung, yang dinilai belum dimanfaatkan secara optimal sebagai tujuan wisata olahraga hingga saat ini. 

Keindahan serta kekayaan bentang alam pegunungan di Indonesia juga dianggap mampu menjadi magnet penarik bagi pelancong domestik maupun mancanegara.

"Nah ini belum menjadi sebuah potensi yang benar-benar kami maksimalkan," tandas Erick.

Terkini