Industri Menara Stagnan, MTEL Ekspansi ke Bisnis Non-Menara

Senin, 06 Juli 2026 | 01:55:32 WIB
Mitratel Bidik Sumber Cuan Baru dari Fiber Optik Hingga FWA [FOTO: NET].

JAKARTA - Emiten infrastruktur menara PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) atau Mitratel tengah mengincar pundi-pundi pertumbuhan baru di luar lini bisnis utamanya dengan berekspansi ke sektor fiber optik, fixed wireless access (FWA), hingga solusi energi (energy solution). 

Langkah taktis ini diambil sebagai respons atas estimasi performa industri menara telekomunikasi yang diproyeksikan masih berjalan stagnan sepanjang tahun ini.

Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko menyampaikan bahwa manajemen telah mengalokasikan anggaran belanja modal sebesar Rp2,9 triliun untuk tahun buku 2026. Melalui dana tersebut, MTEL menargetkan penambahan 2.500 tenan baru serta penyediaan 9.000 billable fiber optik selama setahun ke depan.

“Kami juga akan masuk ke fix wireless dan juga energy solution,” kata Theodorus dalam paparan publik MTEL, Selasa (30/6/2026).

Theodorus memperkirakan dinamika pertumbuhan industri menara pada 2026 tidak akan jauh berbeda dengan tren periode sebelumnya yang cenderung jalan di tempat. Pria yang akrab dipanggil Teddy itu memaparkan bahwa sektor menara telekomunikasi tahun ini masih dibayangi oleh situasi makroekonomi yang tidak menentu, seperti pergolakan geopolitik global dan tren tingginya suku bunga perbankan. 

Kendati demikian, ia melihat celah pertumbuhan masih terbuka lebar dari pelaksanaan lelang spektrum frekuensi oleh para operator seluler serta masifnya pengembangan jaringan FWA oleh penyedia layanan internet.

Teddy mengemukakan jika momentum lelang spektrum frekuensi tersebut dapat dioptimalkan perusahaan untuk melakukan ekspansi bisnis, baik dalam hal memperluas jangkauan jaringan baru maupun mengukuhkan dominasi wilayah cakupan yang telah dimiliki saat ini. 

Di sisi lain, penetrasi layanan FWA yang gencar digarap oleh Solusi Sinergi Digital (WIFI) dan Ekamas Mora Republik (MORA) dipandang menjadi generator pendapatan baru bagi MTEL. Teddy mengutarakan bahwa perseroan berkomitmen penuh untuk mengambil peran strategis dalam menyokong penetrasi jaringan tersebut.

Direktur Bisnis Mitratel Agus Winarno menjabarkan bahwa pada saat ini Mitratel telah berhasil mereposisi diri menjadi next-gen tower company, yang memposisikan MTEL sebagai mitra strategis utama bagi WIFI maupun MORA. Sekarang, MTEL memfasilitasi kedua penyedia internet tersebut lewat pemenuhan pasokan daya listrik (power) serta infrastruktur jaringan kabel fiber optik.

“Ini tidak hanya berjalan di Jawa, tapi juga di luar Jawa, sehingga kelebihan kami yang dominan di luar Jawa ini bisa menjadi sumber pertumbuhan untuk FWA-nya,” tutur Agus.

Agus juga mengamati bahwa tren konsolidasi yang melanda pelaku industri telekomunikasi menyebabkan pasar saat ini hanya dikuasai oleh tiga operator seluler raksasa. Menimbang kondisi tersebut, ia menilai potensi penggelaran jaringan baru akan lebih menantang lantaran para operator kini lebih memprioritaskan efisiensi anggaran belanja.

“Beruntungnya MTEL ini juga didukung distribusi power kami yang dominan ada di luar Jawa dan itu menjadi pusat-pusat pertumbuhan mereka,” ucap Agus.

Bukan hanya itu, Agus mengemukakan bahwa MTEL saat ini dipersenjatai dengan instrumen analisis pemasaran (marketing analytics) yang jauh lebih akurat dalam memetakan serta merekomendasikan titik lokasi menara yang paling menguntungkan bagi para operator seluler.

“Dari XLSMART, justru kami bisa mendapatkan potensi yang besar, sehingga kalau kami lihat tenancy ratio kami di tengah konsolidasi yang sebesar itu masih bertumbuh,” ujarnya.

Sepanjang tahun buku 2025, MTEL sukses mengerek rasio penyewaan menara (tenancy ratio) ke level 1,57 kali yang membuktikan semakin optimalnya utilitas aset perusahaan. 

Di waktu yang bersamaan, portofolio fiber optik korporasi membukukan penambahan panjang kabel secara organik mencapai 6.160 kilometer, sehingga menggenapkan akumulasi jaringan kabel perusahaan menjadi 57.199 kilometer. 

Selaras dengan pencapaian ekspansi tersebut, panjang komersial fiber (fiber billable length) terdongkrak naik menjadi 70.618 kilometer yang pada akhirnya memicu pertumbuhan omzet segmen fiber optik sebesar 18,1% secara tahunan.

Terkini