Daya Beli Melemah, Penjualan Ritel Juni 2026 Diproyeksi Anjlok

Kamis, 09 Juli 2026 | 19:28:32 WIB
Ilustrasi - Konsumen berbelanja kebutuhan rumah tangga. (Foto: NET)

JAKARTA - Prospek performa penjualan eceran diestimasikan mengalami kemerosotan pada Juni 2026 jika dikomparasikan dengan bulan sebelumnya. 

Penurunan ini diindikasikan oleh Indeks Penjualan Riil (IPR) yang berada di level 221,6 pada Juni 2026, menyusut dari pencapaian bulan sebelumnya yang berada di angka 223,4. 

Ditinjau secara tahunan, sektor penjualan eceran mengalami kontraksi sebesar 4,4% year on year (YoY), mencatatkan penurunan yang lebih dalam ketimbang kontraksi 3,9% YoY pada bulan terdahulu.

Kemunduran pada sektor penjualan eceran ini berjalan selaras dengan data keyakinan konsumen yang turut memperlihatkan pelemahan pada Juni 2026. 

Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) terpantau melorot ke posisi 117,8 pada Juni 2026 dari angka 120,9 pada Mei 2026. 

Kendati posisinya masih bertengger di atas ambang batas 100 yang menandakan zona optimistis, penurunan tersebut mengindikasikan bahwa rasa percaya diri publik terhadap peta ekonomi saat ini maupun prospek enam bulan ke depan mulai mengendur.

Menanggapi hal tersebut, Ekonom Makro PT Bank Tabungan Negara (BTN) Myrdal Gunarto berpendapat, merosotnya dua indikator utama ini mengindikasikan bahwa beban ekonomi yang mulanya lebih banyak diakomodasi oleh para pelaku usaha kini sudah mulai berdampak langsung pada sektor rumah tangga.

“Jadi yang sebelumnya yang menanggung tekanan eksternal itu lebih banyak produsen, sekarang sudah terasa di sisi konsumen. Transisi beban (pass-through) ini memaksa konsumen merekalibrasi pengeluaran harian mereka secara ketat dan memicu sikap defensif dalam merespons ekonomi," ujar Myrdal, Rabu (9/7/2026).

Dipaparkan oleh Myrdal, himpitan ekonomi tersebut juga terefleksi dari bergesernya alokasi pendapatan masyarakat. Porsi pemasukan yang dialokasikan untuk tabungan kian mengempis, sebaliknya porsi untuk kebutuhan konsumsi justru merangkak naik. 

Berdasarkan catatannya, terjadi penciutan pada rasio tabungan terhadap pendapatan (saving to income ratio) di mana porsi pendapatan yang disimpan berkurang 0,5% menjadi 17,0% pada Juni 2026, dari sebelumnya 17,5% pada Mei 2026. Fenomena ini mempertegas ruang finansial personal masyarakat yang kian terjepit.

Myrdal turut memberikan sorotan pada peningkatan porsi pengeluaran rumah tangga. Terjadi lonjakan pada beban konsumsi melalui average propensity to consume ratio, dengan kenaikan porsi konsumsi sebesar 0,7% hingga merayap naik ke angka 73,0% pada Juni 2026 dari posisi 72,3% pada Mei 2026. 

Berkaca pada situasi tersebut, hal ini menjadi sinyal bahwa publik terpaksa memangkas dana simpanan cadangan demi menutup pengeluaran biaya hidup sehari-hari.

Bukan hanya itu, Myrdal melihat himpitan pada daya beli kini telah merembet ke sektor belanja nonprimer bahkan merasuk hingga ke rancangan pembelanjaan sekunder. 

Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (Durable Goods) terpantau merosot dari angka 108,3 pada Mei 2026 menjadi 105,9 pada Juni 2026. 

Pola defensif ini dipertegas oleh Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja yang jatuh cukup dalam dari posisi 105 pada Mei 2026 ke level 101,8 pada Juni 2026. 

Fenomena ini, menurut perkiraannya, merepresentasikan pandangan masyarakat bahwa mencari pekerjaan baru kini semakin sulit di tengah situasi pasar kerja yang kurang bersahabat.

Pada lini ritel, Myrdal memaparkan bahwa penyusutan omzet penjualan menjadi cerminan dari dampak melemahnya daya konsumsi publik. 

Di waktu yang sama, rapor penjualan eceran terus mengalami kemerosotan, yakni dari -3,9% YoY pada Mei 2026 merosot ke angka 4,4% yoy pada Juni 2026.

“Ini merupakan dampak dari pelemahan daya beli yang kemudian terefleksi pada sektor ritel, meski terdapat momentum positif libur anak sekolah yang menstimulasi belanja sekunder," katanya.

Dalam pandangannya, tren pelemahan konsumsi dan penjualan eceran masih berisiko berlanjut sekiranya gejolak dari faktor eksternal belum mereda. 

Ditambahkan lagi, tekanan yang melanda sektor optimisme konsumen maupun penjualan ritel diproyeksikan bakal terus bergulir apabila lonjakan inflasi impor, baik akibat fluktuasi harga minyak mentah dunia maupun depresiasi nilai tukar Rupiah, masih terus terjadi. 

Oleh sebab itu, ia menilai intervensi kebijakan fiskal masih sangat krusial demi memagari daya beli masyarakat.

“Dengan tekanan yang semakin terlihat dari sisi optimisme konsumen maupun penjualan ritel ini, maka kami melihat orkestrasi langkah penanganan yang sinergis,” ungkapnya.

Terdapat sejumlah langkah strategis yang dipandang perlu untuk diimplementasikan. Pertama, stimulus defensif berikut bantalan sosial berupa paket stimulus fiskal serta Bantuan Sosial (Bansos) diharapkan tetap digulirkan secara berkesinambungan oleh pemerintah bagi masyarakat berpenghasilan rendah. 

Upaya ini dinilai fundamental demi menjaga stabilitas kondisi masyarakat di level akar rumput.

Langkah kedua adalah rasionalisasi serta efisiensi anggaran (austerity measures) untuk pos pengeluaran kebutuhan nonprimer, yang berfungsi sebagai penopang belanja fiskal krusial bagi ketahanan daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah.

Melalui skenario tersebut, ia menilai titik terang pemulihan domestik saat ini sangat bertumpu pada de-eskalasi konflik geopolitik global. Angka pertumbuhan ekonomi nasional sendiri diproyeksikan mampu menyentuh level 5,17% pada tahun ini.

Apabila volatilitas harga minyak dunia mulai mendingin, inflasi global otomatis akan tereduksi, sehingga memicu kembalinya aliran modal masuk (capital inflow) dari para investor global menuju pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Ia turut mengimbuhkan bahwa guyuran likuiditas dari eksternal ini nantinya akan menyuntikkan kekuatan baru bagi nilai tukar Rupiah, tanpa perlu menekan sektor riil lewat penerapan rezim kebijakan suku bunga tinggi.

“Dengan stabilnya kurs dan inflasi, ruang yang tersedia bagi konsumen dan pelaku usaha akan kembali terbuka. Ini memberi momentum bagi perekonomian nasional untuk berekspansi dengan solid,” tandasnya.

Terkini