Kementan Proyeksi Produksi Daging Ayam dan Telur Surplus pada 2026

Jumat, 10 Juli 2026 | 21:00:32 WIB
Ilustrasi - Telur dan Daging Ayam. (Foto: NET)

JAKARTA — Kementerian Pertanian (Kementan) memperkirakan hasil produksi daging ayam ras dan telur ayam ras di dalam negeri untuk tahun 2026 bakal melebihi total kebutuhan pasar domestik. 

Potensi kelebihan pasokan tersebut diperkirakan menyentuh angka 876.000 ton untuk komoditas daging ayam serta 517.000 ton untuk komoditas telur ayam ras.

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Hary Suhada menyampaikan bahwa secara umum total produksi daging ayam ras maupun telur ayam ras dalam negeri berada pada kategori aman sekaligus sanggup mencukupi keperluan konsumsi warga.

“Prognosa tahun 2026 menunjukkan potensi produksi daging ayam ras mencapai sekitar 4,90 juta ton, sementara kebutuhan nasional diperkirakan sekitar 4,02 juta ton, sehingga terdapat potensi surplus sekitar 876 ribu ton,” kata Hary, Jumat (10/7/2026).

Sementara itu, berkaitan dengan komoditas telur ayam ras, Hary menuturkan bahwa potensi hasil produksi dalam negeri diproyeksikan mampu menyentuh angka 6,99 juta ton. 

Jumlah tersebut melampaui estimasi kebutuhan masyarakat secara nasional yang berada di kisaran 6,47 juta ton, sehingga memicu adanya potensi kelebihan pasokan sebesar 517.000 ton.

Menurut Hary, situasi ini mengindikasikan bahwa ketersediaan stok daging ayam ras beserta telur ayam ras di skala nasional masih sangat memadai guna mencukupi keperluan konsumsi publik. 

Malahan, surplus dari hasil produksi itu dapat dialokasikan demi memperkuat bermacam-macam program yang dicanangkan pemerintah.

Harga Anjlok

Di lain sisi, tingginya potensi kelebihan hasil produksi tersebut dinilai menjadi salah satu aspek pemicu yang menahan pergerakan harga ayam dan telur pada level peternak. 

Pengamat Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Eliza Mardian sebelumnya berpandangan bahwa fenomena kemerosotan harga telur ayam ras bukan semata-mata dipicu oleh faktor limpahan stok, melainkan turut dipengaruhi oleh problem yang sifatnya lebih struktural.

“Ekspansi produksi yg masif ini sebagian didorong adanya ekspektasi demand dari program MBG [Makan Bergizi Gratis] yang ternyata overstated, ditambah melemahnya daya beli masyarakat. Yang lebih krusial lagi adalah kegagalan koordinasi perencanaan supply-demand secara nasional serta inefisiensi rantai pasok yang sangat panjang,” kata Eliza beberapa waktu yang lalu.

Lebih jauh, Eliza berpendapat bahwa penurunan harga yang terjadi di level peternak belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat selaku konsumen. 

Berdasarkan pandangannya, nilai jual di level peternak merosot sangat tajam, namun harga pada level eceran atau ritel hanya menyusut dalam porsi yang terbatas lantaran pihak pedagang perantara serta distributor masih memperoleh margin keuntungan yang tergolong besar.

Situasi semacam ini menempatkan para peternak berskala kecil sebagai pihak yang menerima tekanan paling berat karena mereka tidak mempunyai akses secara langsung ke jaringan pembeli (offtaker) berskala besar. 

Di samping itu, ia memandang bahwa konstelasi pada industri perunggasan nasional juga memperlihatkan aspek ketimpangan yang kian kentara.

Menurutnya, sektor industri hulu, seperti penyediaan pakan ternak dan day old chick (DOC), kini telah mengarah pada pola pasar oligopolistik, yang mana satu korporasi sanggup mendominasi kisaran 35% dari total pangsa pasar. 

Sementara itu, korporasi integrator raksasa yang mempunyai mata rantai bisnis terintegrasi vertikal memiliki daya tahan yang jauh lebih tangguh bila dikomparasikan dengan para peternak rakyat yang menjalankan usahanya secara mandiri.

Terkini