Smelter Gresik Beroperasi, Kontribusi Freeport Tembus Rp120 T

Rabu, 15 Juli 2026 | 20:59:32 WIB
Direktur Utama Freeport Indonesia Tony Wenas

JAKARTA - PT Freeport Indonesia memprediksi sumbangsihnya kepada negara bakal menembus angka di atas 7 miliar dolar AS atau setara Rp120 triliun per tahun. 

Target ini akan terealisasi saat aktivitas produksi tambang kembali berjalan normal dan seluruh infrastruktur hilirisasi tembaga di Gresik, Jawa Timur, sudah berfungsi secara menyeluruh.

Direktur Utama Freeport Indonesia Tony Wenas menyampaikan bahwa performa tersebut didorong oleh operasional smelter serta precious metal refinery (PMR) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik. Fasilitas ini memungkinan proses pengolahan seluruh rantai nilai tembaga terintegrasi di dalam negeri.

"Dengan beroperasinya smelter dan precious metal refinery di Gresik, seluruh rantai nilai tembaga dari konsentrat, katoda tembaga, hingga logam mulia seperti emas dan perak kini dapat diproses di dalam negeri. Ini merupakan lompatan besar bagi hilirisasi mineral Indonesia," kata Tony dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI di Jakarta, Selasa (14/7/2026), sebagaimana dikutip dari keterangan persnya di Jakarta, Rabu (15/7/2026).

Infrastruktur smelter anyar ini mempunyai kapasitas pengolahan konsentrat tembaga mencapai 1,7 juta ton per tahun. 

Ditambah dengan perluasan kapasitas PT Smelting Gresik sebesar 300 ribu ton serta kapasitas eksisting PT Smelting sebesar 1 juta ton, Freeport kini memegang kapasitas pemurnian konsentrat tembaga domestik sekitar 3 juta ton per tahun.

Di samping itu, fasilitas PMR penyaring lumpur anoda berkapasitas 6.000 ton per tahun miliknya sanggup memurnikan perak, emas, serta logam grup platinum. 

Infrastruktur ini memproduksi kurang lebih 600 ribu ton katoda tembaga per tahun. Jika digabung dengan output PT Smelting, total volume katoda tembaga yang dihasilkan menyentuh kisaran 800 ribu ton per tahun.

Fasilitas PMR ini juga mampu memproduksi sekitar 50 ton emas, 200 ton perak, 30 kilogram platinum, 375 kilogram paladium, 285 ton selenium, 220 ton bismut, dan 2.200 ton timbal per tahun. Rencananya, seluruh hasil produksi emas tersebut akan diserap langsung oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam).

Kendati demikian, Tony menjabarkan bahwa jalannya operasional smelter sempat menemui hambatan pascaterjadinya insiden kebakaran di area gas cleaning plant pada Oktober 2024. Proses rekonstruksi telah rampung diselesaikan hingga smelter bisa aktif kembali pada Mei 2025.

Namun, aktivitas operasional kembali terhambat lantaran peristiwa longsor di Grasberg Block Cave yang menyetop distribusi konsentrat. 

Saat ini, pihak manajemen memanfaatkan momentum berhentinya operasional tersebut untuk melangsungkan pengecekan berkala secara total sekaligus menyempurnakan fasilitas sebelum smelter kembali disuplai konsentrat dari Papua mulai September tahun ini.

"Fokus kami saat ini adalah memastikan proses pemulihan tambang berjalan aman sehingga pasokan konsentrat kembali normal. Ketika sisi hulu pulih dan smelter beroperasi penuh, manfaat hilirisasi akan semakin optimal, baik dalam bentuk peningkatan produksi logam, penguatan industri dalam negeri, maupun peningkatan penerimaan negara," ujar Tony.

Tony menambahkan, volume produksi tambang pada 2026 diprediksi baru menyentuh angka 65 persen dari total kapasitas karena masih dalam fase pemulihan pascalongsor. 

Angka ini ditargetkan merangkak naik ke posisi 75 persen pada paruh pertama 2027 sebelum akhirnya menyentuh level 100 persen di akhir tahun tersebut.

Seiring berjalannya pemulihan itu, volume produksi logam diproyeksikan bakal meningkat secara bertahap. Pada 2026, Freeport membidik target produksi kurang lebih 800 juta pound tembaga dan 700 ribu ounce emas atau setara 21 ton emas.

Volume produksi tersebut diproyeksikan melonjak ke angka 1,2 miliar pound tembaga dan 1 juta ounce emas atau berkisar 31 ton pada 2027, kemudian menyentuh 1,6 miliar pound tembaga dan 1,4 juta ounce emas atau setara 43 ton pada 2028.

Sejalan dengan pemulihan tren produksi, setoran untuk negara diprediksi merangkak naik dari sekitar 2,6 miliar dolar AS pada 2026 menjadi 4,7 miliar dolar AS pada 2027, hingga akhirnya melewati angka 7 miliar dolar AS atau setara Rp120 triliun per tahun sewaktu kapasitas produksi telah normal sepenuhnya.

Dalam forum rapat tersebut, Komisi XII DPR RI melempar apresiasi terhadap upaya Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID beserta PT Freeport Indonesia dalam memperkokoh hilirisasi tembaga lewat pembangunan smelter dan PMR di Gresik. 

Langkah tersebut dinilai efektif menaikkan nilai tambah komoditas mineral, memperkuat sektor pengolahan domestik, sekaligus mendongkrak kontribusi bagi roda perekonomian nasional.

Terkini