BRI Konsisten Dukung UMKM, Laba Rp13,8 Triliun Diperoleh Meski Tantangan Ekonomi Global Semakin Kompleks

Rabu, 14 Mei 2025 | 11:31:12 WIB

JAKARTA — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) kembali membuktikan ketangguhan model bisnisnya. Dalam kondisi global yang diwarnai perang tarif, fluktuasi mata uang, dan ketidakpastian geopolitik, BRI mencetak laba bersih konsolidasian sebesar Rp13,80 triliun di kuartal pertama 2025.

Capaian ini disampaikan dalam konferensi pers kinerja triwulan pertama 2025, yang dihadiri para direktur utama perseroan, dan memperlihatkan bahwa total aset BRI telah mencapai Rp2.098,23 triliun, naik 5,49% secara tahunan (yoy).

Pasar Domestik Jadi Kunci Keberhasilan

Fokus BRI pada pasar domestik menjadi strategi jitu di tengah tekanan global. Direktur Utama Hery Gunardi menyatakan bahwa meski ada gejolak dari luar negeri, ekonomi Indonesia tetap tangguh karena ditopang konsumsi rumah tangga dan sektor UMKM.

“Kami yakin bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Dampak perang tarif tidak besar terhadap BRI karena kami fokus pada sektor domestik. Negosiasi dengan AS pun kami harapkan membawa hasil positif,” jelas Hery.

Kredit UMKM Dominasi Portofolio

Strategi penyaluran kredit juga memperkuat peran BRI sebagai bank yang mengakar di sektor UMKM. Dari total kredit Rp1.373,66 triliun, sekitar Rp1.126,02 triliun (81,97%) disalurkan ke sektor UMKM. Hal ini membuktikan bahwa segmen mikro tetap menjadi tulang punggung BRI.

Program AgenBRILink, sebagai ujung tombak layanan keuangan inklusif, mencatat transaksi Rp423 triliun, tumbuh 49,48% yoy, dan menjangkau 88% desa di Indonesia.

“AgenBRILink kini menjadi sarana penting dalam memperluas layanan keuangan hingga ke pelosok desa,” kata Direktur Mikro, Akhmad Purwakajaya.

Digitalisasi dan CASA Mendorong Pertumbuhan Dana

Direktur Jaringan dan Dana Ritel, Aquarius Rudianto, menyoroti kinerja Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai Rp1.421,60 triliun, dengan proporsi dana murah (CASA) yang tumbuh signifikan menjadi 65,77%.

“Pertumbuhan dana murah ini tak lepas dari inovasi digital, terutama aplikasi BRImo yang kini telah diunduh oleh lebih dari 40 juta pengguna, dengan total transaksi Rp1.599 triliun,” jelasnya.

Selain itu, BRI juga terus memperluas kanal digital seperti QRIS dan EDC, memperkuat sistem pembayaran di seluruh lapisan masyarakat.

Risiko Terkelola dengan Baik

Direktur Manajemen Risiko, Mucharom, melaporkan bahwa kualitas aset membaik. Rasio NPL BRI berada di 2,97%, turun dari 3,11% tahun lalu. Loan at Risk juga berkurang dari 12,68% menjadi 11,12%, dengan cakupan cadangan yang kuat.

“Kami memiliki NPL Coverage sebesar 200,60%, cukup solid untuk menghadapi gejolak global ke depan,” katanya.

Permodalan dan Likuiditas Siap Tumbuh Lebih Besar

Direktur Finance & Strategy Viviana Dyah Ayu menambahkan bahwa BRI memiliki rasio kecukupan modal (CAR) 24,03% dan rasio LDR 86,03%, memberikan fleksibilitas ekspansi dan mitigasi risiko.

“Modal kami kuat dan likuiditas terjaga. Ini adalah modal besar bagi BRI untuk terus melaju, bahkan dalam iklim global yang tidak menentu,” kata Viviana.

Menuju Bank Universal, Melayani Seluruh Segmen

BRI juga terus melangkah menjadi bank universal. Selain dominan di segmen UMKM, BRI juga mengembangkan platform korporasi seperti QLola, yang kini digunakan lebih dari 211 ribu nasabah korporat. Jumlah tenaga pemasar mencapai 36.600 orang, dan jaringan kantor lebih dari 6 ribu unit kerja.

“Kami ingin menjadi mitra finansial utama bagi semua segmen. Dengan digitalisasi dan jaringan luas, kami optimis mampu menciptakan pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan,” tutur Hery Gunardi.

Dengan performa keuangan yang solid, pendekatan berbasis digital, serta komitmen kuat terhadap UMKM, BRI menunjukkan posisinya sebagai bank terdepan yang mampu bertahan dan bertumbuh dalam berbagai situasi.

Terkini