Lagarde Disebut Campur Tangan Blokir Lisensi MiCA Binance di Yunani

Jumat, 18 September 2026 | 19:58:00 WIB

FINANSIALSCOPE.ID — Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde dilaporkan turun tangan langsung menggagalkan upaya Binance memperoleh lisensi kripto Uni Eropa di Yunani. Langkah itu disebut demi melindungi proyek digital euro dari dominasi stablecoin berbasis dolar AS. Binance akhirnya menarik permohonannya pada Juni, tetapi bersikeras tetap ingin beroperasi di Eropa.

Laporan The Wall Street Journal yang mengutip sumber-sumber yang mengetahui proses tersebut menyebut Lagarde meminta keputusan atas permohonan Binance ditunda. Seorang regulator senior Yunani menyampaikan permintaan itu kepada Binance secara langsung.

Penundaan diminta hingga European Securities and Markets Authority (ESMA) mengambil alih kewenangan perizinan bursa kripto. Pengambilalihan itu bagian dari reformasi Uni Eropa yang belum resmi diadopsi.

ECB Tidak Punya Wewenang Formal, tapi Berpengaruh

Di bawah kerangka MiCA, izin usaha diberikan oleh regulator keuangan masing-masing negara anggota Uni Eropa. Satu persetujuan di satu negara berlaku untuk seluruh blok. ECB sendiri tidak memegang kewenangan perizinan formal apa pun.

Juru bicara ECB menolak berkomentar saat dihubungi. Namun sumber yang sama menegaskan ECB tidak memiliki peran institusional dalam mengesahkan Crypto-Asset Service Providers (CASP). Kewenangan itu tetap ada di tangan otoritas nasional, dalam kasus ini Hellenic Capital Market Commission (HCMC).

Meski begitu, pengaruh ECB terasa nyata. Kekhawatiran utama Lagarde adalah skala Binance sebagai bursa kripto terbesar dunia dan potensinya memperdalam penggunaan stablecoin berbasis dolar di kawasan.

Hal itu dinilai bisa menggerus posisi digital euro dan alternatif yang berbasis mata uang euro.

Binance Bertahan Meski Aplikasi Dicabut

Binance menarik permohonan lisensi di Yunani pada pertengahan Juni. Langkah itu diambil setelah HCMC memutuskan tidak menyetujui permintaan lisensi MiCA perusahaan pada menit-menit terakhir.

Keputusan tersebut memaksa Binance menutup operasinya di negara itu. Perusahaan berjanji tetap bertahan di Eropa.

Gillian Lynch, Kepala Binance untuk Eropa, mengatakan kepada CoinDesk pada awal Juli bahwa bursa telah memenuhi seluruh persyaratan HCMC.

"Kami dinilai memiliki aplikasi yang lengkap," kata Lynch. "Tidak ada yang kurang, tidak ada hal material yang tertunda."

Juru bicara Binance menolak menanggapi laporan tersebut secara spesifik. "Kami tidak akan berkomentar soal spekulasi," ujarnya.

"Di Eropa, Binance tetap berkomitmen beroperasi secara jangka panjang dan patuh di bawah Markets in Crypto-Assets Regulation (MiCA) Uni Eropa."

Perusahaan menyatakan masih berniat mengajukan lisensi. "Kami aktif berupaya menjadi MiCA-authorised dan memandang ini sebagai langkah penting untuk memberi pengguna layanan yang konsisten, teregulasi, dan tepercaya di pasar Eropa," kata juru bicara tersebut.

ESMA Disebut Sarankan Penolakan

WSJ juga melaporkan ESMA secara privat menyarankan regulator keuangan nasional menolak aplikasi MiCA Binance. Alasannya, kekhawatiran atas masalah kepatuhan bursa di masa lalu.

Tekanan terhadap Binance bukan hal baru. Pendirinya, Changpeng "CZ" Zhao, mengaku bersalah di Amerika Serikat pada 2023 karena melanggar Bank Secrecy Act (BSA).

CZ setuju membayar denda 4,3 miliar dolar AS. Ia menjalani hukuman penjara empat bulan di California pada 2024, lalu mendapat pengampunan dari Presiden Donald Trump pada Oktober 2025.

Dampak ke Pasar Kripto Asia dan Indonesia

Uni Eropa kini menjadi medan uji ketat bagi bursa kripto global yang ingin beroperasi legal. MiCA memberi jalan bagi izin tunggal yang berlaku di seluruh blok, tetapi prosesnya sarat kepentingan politik dan moneter.

Bagi pengguna di Asia, termasuk Indonesia, sinyalnya jelas: stablecoin berbasis dolar AS semakin diawasi ketat oleh bank-bank sentral. Perlombaan antara stablecoin swasta dan mata uang digital bank sentral (CBDC) memasuki babak yang lebih terbuka.

Binance belum memberi keterangan resmi soal negara mana yang akan menjadi basis aplikasi MiCA berikutnya. Yang pasti, ambisi mereka untuk tetap hadir di Eropa belum surut.

Terkini