FINANSIALSCOPE.ID — Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat produk asuransi hewan peliharaan atau pet insurance yang beredar di dalam negeri memiliki premi mulai sekitar Rp300.000 per tahun, dengan pasar yang masih terbatas pada segmen konsumen tertentu. Sejumlah perusahaan asuransi mulai melirik ceruk ini seiring tumbuhnya ekosistem hewan peliharaan di Indonesia.
Ketua Umum AAUI Budi Herawan menyatakan perkembangan gaya hidup memelihara hewan kesayangan membuka peluang baru bagi industri asuransi umum. Pasar pet insurance di Indonesia dinilai belum tergarap luas.
Pertumbuhan ekosistem hewan peliharaan serta meningkatnya perhatian pemilik terhadap kesehatan dan perawatan hewan disebut menjadi pendorong utama. AAUI melihat segmen ini berpotensi menjadi area pengembangan produk personal lines.
Premi dan Limit Pertanggungan Bervariasi
Besaran premi pet insurance bergantung pada desain produk dan profil risiko hewan yang diasuransikan. AAUI mencatat sejumlah produk yang telah beredar memiliki premi sekitar Rp300.000 per tahun.
Produk lain dipasarkan dengan premi sekitar Rp500.000 hingga Rp850.000 per tahun. Limit pertanggungannya bervariasi, mulai Rp10 juta hingga Rp25 juta, dengan sublimit tertentu sesuai manfaat yang diberikan.
Perbedaan itu menunjukkan perlindungan pet insurance sangat bergantung pada cakupan manfaat, risiko yang ditanggung, serta karakteristik hewan yang diasuransikan.
Fokus Masih Anjing dan Kucing
Produk pet insurance ritel di Indonesia saat ini banyak berfokus pada anjing dan kucing. Secara konsep, perlindungan asuransi hewan tidak terbatas pada kedua jenis tersebut.
AAUI menekankan pentingnya membedakan pet insurance dengan asuransi ternak. Perlindungan hewan ternak seperti sapi dan kerbau memiliki karakter risiko serta desain produk yang berbeda.
Survei Jakpat 2026 terhadap lebih dari 1.254 responden menunjukkan kucing menjadi hewan paling banyak dipelihara, dengan proporsi mencapai 75%.
Manfaat dan Pengecualian Polis
Secara umum, pet insurance memberikan penggantian biaya dokter hewan dan pengobatan akibat kecelakaan, rawat inap, tindakan operasi, hingga santunan bila hewan peliharaan meninggal akibat risiko yang dijamin polis.
Sejumlah produk juga memberikan perlindungan atas penyakit tertentu maupun tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga. Hal itu berlaku bila hewan peliharaan menyebabkan cedera atau kerugian.
Namun, tidak seluruh biaya perawatan hewan otomatis ditanggung. Beberapa kondisi masuk pengecualian polis, seperti penyakit yang telah ada sebelumnya, pemeriksaan rutin, vaksinasi, kondisi berdasarkan usia dan ras, serta tindakan preventif maupun kosmetik.
"Jadi inovasi produknya dapat dilakukan oleh masing-masing perusahaan, tetapi tetap berada dalam kerangka regulasi dan pengawasan OJK," ujar Budi.
Pasar Global Tumbuh, Indonesia Belum Terdata Terpisah
Secara global, potensi pasar pet insurance terus meningkat. Data Fortune Business Insights memperkirakan nilai pasar pet insurance global mencapai sekitar US$10,4 miliar pada 2025.
Angka itu diproyeksikan naik menjadi US$21,3 miliar pada 2034, dengan pertumbuhan rata-rata sekitar 8% per tahun.
Statistik khusus pasar pet insurance Indonesia belum tercatat secara terpisah. Meski begitu, perkembangan jumlah dan jenis layanan dalam ekosistem hewan peliharaan menunjukkan potensi yang bisa digarap industri asuransi.
Ekosistem industri hewan kesayangan kini meliputi pakan dan nutrisi, layanan veteriner, obat-obatan, perawatan, hingga pemanfaatan teknologi.
Baru Segelintir Perusahaan yang Menggarap
AAUI belum memisahkan pet insurance sebagai lini bisnis tersendiri dalam industri asuransi umum. Produk tersebut baru dikembangkan oleh segelintir perusahaan.
Beberapa perusahaan yang telah mengembangkan produk ini antara lain AXA Insurance Indonesia, BCA Insurance, Asuransi Intra Asia, Zurich Indonesia, Asuransi Sinar Mas, dan MSIG Indonesia.
AAUI menegaskan setiap perusahaan asuransi memiliki desain pengembangan produk masing-masing. Cakupannya meliputi jenis risiko yang ditanggung, batas pertanggungan, premi, hingga kebijakan underwriting.
Ke depan, pet insurance berpotensi menjadi segmen baru bagi industri asuransi umum. Potensi itu sejalan dengan berkembangnya ekosistem hewan peliharaan dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap perlindungan hewan kesayangan.