JAKARTA - Shio telah mengakar dalam kebudayaan Tiongkok selama ribuan tahun. Walau saat ini lebih populer sebagai basis ramalan nasib, sistem shio sesungguhnya menyimpan histori, mitos, serta adat yang tetap diyakini sampai era modern.
Mulai dari mitologi balapan satwa hingga keyakinan terkait tahun kelahiran yang dipandang membawa sial, tiap-tiap shio menyimpan kisah memikat buat ditelusuri. Berikut delapan fakta memikat di balik shio, merujuk pada saduran dari Lifestyle Asia, Selasa (30/6/2026).
Urutan shio bermula dari mitologi balapan dua belas satwa. Berdasarkan mitos China, urutan tersebut ditetapkan lewat sayembara yang digelar oleh Kaisar Giok (Jade Emperor). Dua belas satwa terawal yang sanggup melintasi sungai bakal diabadikan menjadi urutan shio.
Tikus sukses menduduki posisi pertama lantaran memanfaatkan kebaikan hati Kerbau. Seusai menumpang di punggung Kerbau, Tikus melompat tepat menjelang garis finis agar bisa sampai lebih dulu. Lewat dongeng inilah runtutan shio tercipta, diawali dari Tikus hingga Babi.
Di sisi lain, Kucing tidak terdaftar dalam deretan shio akibat kisah pengkhianatan. Banyak yang penasaran penyebab Kucing absen dari dua belas shio. Sebuah legenda mengisahkan bahwa Tikus mendorong Kucing ke sungai kala balapan berlangsung, sehingga ia gagal mencapai garis akhir.
Versi lainnya menyebutkan Tikus alpa membangunkan Kucing pada hari sayembara. Imbasnya, Kucing terlambat dan kehilangan peluang ikut seleksi. Riwayat ini pun kerap dihubungkan dengan pemicu permusuhan antara kucing dan tikus.
Sebelum adanya jam modern, masyarakat Tiongkok kuno memanfaatkan sistem shio sebagai alat penunjuk waktu. Waktu satu hari dibagi menjadi 12 jangka waktu yang masing-masing berjalan selama dua jam. Tiap satwa memperoleh bagian waktu yang selaras dengan wataknya.
Sebagai contoh, Tikus merepresentasikan rentang pukul 23.00 sampai 01.00 lantaran giat berburu pangan di malam hari, sementara Ular menandai pukul 09.00 hingga 11.00 saat mulai keluar dari sarang mereka.
Shio juga diyakini dapat membantu menilai keselarasan pasangan. Dalam tradisi China, shio bukan cuma dipakai untuk memprediksi peruntungan, tetapi juga dipercaya bisa melihat kecocokan hubungan.
Sampai hari ini, beberapa keluarga, juru ramal, hingga perantara jodoh masih menimbang kecocokan shio sebelum pernikahan dilangsungkan. Sejumlah kombinasi dinilai lebih tenteram, sedangkan perpaduan shio tertentu diprediksi bakal lebih kerap memicu konflik.
Uniknya, tahun shio kelahiran sendiri justru diyakini kurang membawa keberuntungan. Banyak khalayak mengira tahun shionya sendiri bakal menjadi masa yang paling penuh mujur. Namun, keyakinan tradisional China justru berpandangan sebaliknya.
Ketika memasuki tahun kelahiran yang berputar tiap 12 tahun sekali, seseorang dipercaya bakal lebih rentan menemui rintangan lantaran dinilai bertolak belakang dengan Tai Sui atau Dewa Penjaga Usia. Oleh sebab itu, sebagian masyarakat memilih memakai pakaian merah atau perhiasan giok demi menolak bala.
Tiap shio pun mempunyai lima elemen yang berputar kembali setiap 60 tahun. Di samping aspek satwa, tiap shio diselaraskan dengan lima unsur, yakni Kayu, Api, Tanah, Logam, dan Air.
Akibat perpaduan satwa dan elemen yang terus berputar ini, kombinasi yang persis sama baru akan terulang kembali setiap 60 tahun. Contohnya, Tahun Naga Kayu 2024 baru akan dijumpai lagi pada tahun 2084 mendatang.
Sementara itu, Shio Kambing sering dipandang sebagai shio yang paling tidak beruntung. Di dalam cerita rakyat Tiongkok, terdapat sebuah ungkapan bahwa sembilan dari sepuluh orang yang lahir di Tahun Kambing akan menghadapi kehidupan yang sulit.
Pandangan tersebut membikin Shio Kambing kerap dicap kurang beruntung ketimbang shio lainnya. Kebalikannya, Shio Naga dipandang sebagai lambang keberuntungan, otoritas, serta kesuksesan. Kendati demikian, penilaian itu murni bagian dari tradisi kultural dan bukan sebuah fakta ilmiah.
Terakhir, Naga menjadi satu-satunya makhluk mitologi di dalam sistem shio. Dari dua belas shio yang ada, cuma Naga yang bukan merupakan satwa nyata. Dalam kebudayaan China, naga merepresentasikan keberanian, kemakmuran, kepemimpinan, serta kehormatan.
Walaupun dibekali kekuatan yang luar biasa, dongeng menyebutkan Naga gagal memenangi balapan lantaran memilih menolong desa yang diamuk kebakaran serta membantu Kelinci menyeberangi sungai. Sifat penolong tersebut yang mengakibatkan Shio Naga harus puas menempati urutan kelima dalam deretan shio.