Jangan Abaikan, Ini 8 Tanda Tak Biasa Usus Sedang Tidak Sehat

Jangan Abaikan, Ini 8 Tanda Tak Biasa Usus Sedang Tidak Sehat
Ilustrasi - Gejala Gangguan Pencernaan. (Foto: NET)

JAKARTA - Berbagai riset dalam beberapa tahun terakhir kian membuktikan bahwa kesehatan usus memegang kendali krusial pada kondisi tubuh secara menyeluruh. 

Saluran cerna manusia dihuni oleh triliunan mikroorganisme yang membentuk mikrobiota usus. Kelompok mikroorganisme ini bertugas membantu proses cerna makanan, penyerapan nutrisi, hingga menyokong sistem kekebalan tubuh. 

Usus dan otak pun aktif berinteraksi lewat gut-brain axis, sebuah jalur komunikasi dua arah yang mengintegrasikan saraf, hormon, dan sistem imun. 

Oleh sebab itu, keseimbangan mikrobiota usus turut dikaitkan dengan kesehatan mental, seperti suasana hati, manajemen stres, dan fungsi kognitif, walaupun interaksi ini masih terus didalami oleh para ahli.

Ada beberapa tanda tidak biasa yang muncul ketika sistem pencernaan sedang mengalami gangguan:

1. Sakit kepala

Hambatan dalam penyerapan nutrisi akibat gangguan cerna bisa memicu timbulnya sakit kepala yang mengganggu. Hal ini berkaitan erat dengan proses peradangan serta interaksi antara usus dan otak.

"Migrain sedikit lebih rumit, tetapi ada hubungan antara migrain dan sakit perut," jelas dokter spesialis gastroenterologi di New York, Aditya Sreenivasan, M.D, melansir Real Simple, Kamis (9/7/2026).

Ketidakseimbangan hormon yang mendasari sakit kepala ternyata juga kerap menjadi pemicu timbulnya problem di saluran cerna.

2. Lebih mudah marah

Anda mungkin sering merasakan mulas saat berada di bawah tekanan stres. Sebaliknya, pencernaan yang terganggu juga bisa mengirimkan sinyal balik menuju otak. 

Mengingat jumlah sel saraf di saluran pencernaan jauh lebih melimpah dibanding di otak, dr. Sreenivasan memastikan bahwa masalah pencernaan sangat berpotensi memicu gangguan suasana hati, seperti kecemasan berlebih dan sifat mudah marah.

3. Sembelit atau perut kembung

Kondisi kembung serta sembelit kronis dapat dipicu oleh ketidakseimbangan bakteri dan penurunan performa sistem cerna.

"Jika kamu merasa kembung atau sembelit, perhatikan kembali apa yang kamu makan dan minum selama 48 jam terakhir," saran ahli gizi terdaftar dan pendiri Healing Nutrition, Johanna Salazar, M.S., RDN.

Rasa begah pada perut bisa saja hanya efek temporer dari makanan yang dikonsumsi. Akan tetapi, jika keluhan tersebut menetap hingga lebih dari satu minggu, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter.

4. Lelah tanpa sebab

Bila Anda terus-menerus menguap meski waktu tidur sudah terpenuhi, ketidakseimbangan sistem cerna bisa jadi merupakan faktor utamanya. Berdasarkan penjelasan dr. Sreenivasan, rasa letih ini berkaitan langsung dengan gangguan suasana hati yang dapat mengganggu kualitas tidur. 

Di samping itu, penyerapan nutrisi yang terhambat di area usus bisa menguras energi tubuh sekaligus memicu pikiran berkabut yang menurunkan daya ingat. Kendati demikian, koreksi dahulu pola tidur Anda sebelum menyimpulkan sistem pencernaan sebagai penyebabnya.

5. Bau mulut

Aroma napas yang tidak sedap dapat menjadi indikator tersembunyi berikutnya. Ketika seseorang mengalami sembelit, zat sisa atau racun dari kotoran akan tertahan dan menumpuk di dalam tubuh.

Salazar menerangkan bahwa tumpukan racun inilah yang membuat napasmu berbau tidak sedap.

Jika Anda sudah disiplin menggosok gigi namun aroma kurang sedap tersebut tetap muncul, mulailah berfokus untuk merawat kesehatan usus.

6. BAB tak teratur

Siklus buang air besar pada setiap orang memang sangat variatif, berkisar antara tiga kali dalam sehari hingga sekali dalam tiga hari. Namun, apabila terjadi perubahan drastis yang keluar dari pola harian, hal itu patut diwaspadai sebagai sinyal peringatan.

"Perubahan kebiasaan buang air besar, seperti tiba-tiba berubah dari harian menjadi tiga kali sehari atau sekali setiap tiga hari, patut diperhatikan," ucap dr. Sreenivasan.

7. Kepekaan baru terhadap makanan

Masalah pencernaan ternyata bisa membuat tubuh mendadak menolak jenis makanan tertentu. Kasus yang paling sering dijumpai adalah naiknya permeabilitas usus, atau yang secara awam kerap diistilahkan sebagai "dinding usus yang melonggar", yaitu merenggangnya sel-sel yang melapisi bagian usus. 

Dinding usus sejatinya memang bersifat semipermeabel agar nutrisi dan air dari asupan makanan dapat terserap dengan baik ke aliran darah. Namun, celah antar-sel tersebut terkadang menjadi terlampau lebar.

"Ketika hal ini terjadi, partikel makanan berukuran besar atau bakteri dapat menerobos masuk ke aliran darah, yang pada akhirnya mengakibatkan peradangan," jelas Salazar.

Kondisi peradangan inilah yang memicu munculnya sensitivitas terhadap makanan tertentu. Dampaknya tidak cuma memunculkan gangguan perut seperti kembung, gas berlebih, diare, sembelit, dan mual, melainkan juga gejala di luar pencernaan seperti sakit kepala, pikiran berkabut, hingga timbulnya ruam kulit.

8. Masalah pada kulit

Inflamasi atau peradangan pada kulit bisa dipicu oleh reaksi alergi serta kondisi usus yang tidak sehat. Riset bertajuk "Gut–Skin Axis: Current Knowledge of the Interrelationship between Microbial Dysbiosis and Skin Conditions" dalam jurnal Microorganisms memaparkan bahwa mikrobioma pencernaan sangat memengaruhi kekuatan sistem kekebalan tubuh dalam memelihara kesehatan kulit. 

Ketika mikrobioma ini terganggu, imunitas akan berubah dan memicu problem kulit mulai dari ketombe hingga jerawat. Selain itu, dr. Sreenivasan juga mengingatkan bahwa kebiasaan mengonsumsi makanan olahan serta makanan yang tinggi kadar garam dapat memicu pembengkakan pada jaringan kulit tubuh.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index