JAKARTA - Bagi sebagian besar kalangan, pilihan untuk hidup tanpa anak atau childfree kerap kali dipandang tabu dan dinilai memerlukan pembenaran secara sosial.
Budaya populer memang sudah sejak lama menghubungkan kedewasaan, kebahagiaan, serta kepuasan hidup dengan peran sebagai orangtua.
Fenomena tersebut tercermin jelas dari maraknya perdebatan warganet di jagat media sosial terkait isu ini. Mereka yang telah mempunyai anak mayoritas cenderung menghakimi kelompok yang memutuskan untuk menua tanpa kehadiran anak.
Akan tetapi, para psikolog serta ilmuwan sosial memaparkan bahwa realitas yang terjadi sesungguhnya jauh lebih kompleks daripada anggapan umum tersebut.
Semakin banyak studi yang membuktikan bahwa individu yang secara sadar memilih untuk tidak mempunyai anak tidak lantas menjadi kurang peduli, kurang bahagia, atau lebih egois.
Dalam banyak kondisi, keputusan hidup tersebut diambil lewat pertimbangan yang matang dan selaras dengan nilai-nilai personal, prioritas, sekaligus visi mereka mengenai kehidupan yang bermakna.
Merujuk data dari Economic Times (29/6/2026), mayoritas masyarakat berasumsi bahwa memiliki anak merupakan jalan utama demi meraih kebahagiaan. Namun, ilmu psikologi memetakan gambaran yang jauh lebih kompleks terkait hal tersebut.
Berdasarkan tinjauan sistematis pada tahun 2022 oleh Brittany Stahnke, Morgan E. Cooley, dan Amy Blackstone yang dirilis dalam The Family Journal, para peneliti mengkaji 15 studi peer-reviewed yang mengukur tingkat kepuasan hidup di antara orang dewasa yang memilih childfree.
Kesimpulan dari penelitian tersebut sangat mengejutkan: tidak ada bukti konsisten yang menyatakan bahwa memilih untuk tidak memiliki anak dapat menurunkan kepuasan hidup seseorang.
Sebaliknya, di seluruh studi yang ditinjau, orang dewasa yang childfree sering kali melaporkan tingkat kepuasan hidup yang setara atau bahkan lebih tinggi daripada mereka yang menjadi orangtua.
Para penulis berargumen bahwa kebahagiaan manusia bergantung pada banyak faktor lain, seperti: hubungan yang saling mendukung, keamanan finansial, otonomi diri, kesehatan fisik, serta memiliki tujuan hidup yang jelas. Dengan kata lain, menjadi orangtua hanyalah salah satu rute yang memungkinkan untuk mencapai kebahagiaan, bukan satu-satunya jalan.
Keyakinan umum lain yang berkembang di tengah masyarakat adalah anggapan bahwa orang dewasa yang memilih childfree nantinya akan berubah pikiran seiring bertambahnya usia.
Namun, sebuah studi tahun 2022 oleh Zachary P. Neal dan Jennifer Watling Neal berjudul "Prevalence, age of decision, and interpersonal warmth judgements of childfree adults", membantah asumsi tersebut.
Menggunakan data survei yang representatif, para peneliti memperkirakan bahwa sekitar 21,6 persen orang dewasa mengidentifikasi diri mereka sebagai childfree.
Menariknya, mayoritas dari mereka sudah memutuskan bahwa mereka tidak menginginkan anak sejak usia remaja atau usia 20-an. Bahkan data yang lebih meyakinkan menunjukkan bahwa wanita yang melaporkan telah mengambil keputusan ini sebelum usia 20 tahun, rata-rata berusia hampir 39 tahun saat survei dilakukan.
Hal ini berarti banyak dari mereka yang tetap teguh mempertahankan keputusan yang sama selama hampir dua dekade. Temuan ini secara langsung menantang asumsi luas bahwa orang yang memilih hidup tanpa anak pasti akan mengubah pikiran mereka di masa depan.
Salah satu pemicu mengapa stereotip negatif terhadap kelompok childfree terus bertahan adalah karena masyarakat sering kali berasumsi bahwa seseorang harus memprioritaskan tanggung jawab keluarga di atas tujuan pribadi.
Para psikolog yang mempelajari Teori Penentuan Nasib Sendiri (Self-Determination Theory), yang dikembangkan oleh Edward Deci dan Richard Ryan, berargumen bahwa kesejahteraan psikologis (well-being) seseorang berada pada titik tertinggi ketika mereka membuat pilihan hidup penting berdasarkan nilai-nilai mendalam yang mereka yakini sendiri, bukan karena tekanan eksternal atau ekspektasi sosial.
Dari perspektif ini, memutuskan untuk menjadi orangtua karena hal itu benar-benar mencerminkan tujuan hidup seseorang bisa terasa sangat memuaskan. Di sisi lain, memutuskan untuk tidak menjadi orangtua karena gaya hidup lain dinilai lebih cocok dengan nilai-nilai pribadinya juga dapat mendukung kesejahteraan psikologis jangka panjang.
Perlu digarisbawahi bahwa psikologi tidak mengklaim bahwa memilih untuk tidak memiliki anak lebih baik daripada menjadi orangtua, ataupun menyatakan bahwa menjadi orangtua tidak membawa kebahagiaan dan makna hidup yang mendalam.
Sebaliknya, penelitian secara konsisten menunjuk pada kesimpulan yang lebih sederhana, bahwa tidak ada cetak biru tunggal (single blueprint) untuk menjalani hidup yang bahagia.
Salah satu kekeliruan terbesar yang kerap terjadi di tengah masyarakat adalah menyamaratakan semua orang yang tidak memiliki anak ke dalam satu kelompok yang sama.
Menurut studi tahun 2021 oleh Jennifer Watling Neal dan Zachary P. Neal yang diterbitkan dalam jurnal PLOS ONE, orang dewasa yang childfree didefinisikan sebagai individu yang tidak memiliki anak dan secara sadar tidak menginginkan anak.
Definisi ini membedakan mereka dari kelompok childless, yaitu orang-orang yang tidak memiliki anak karena faktor infertilitas (gangguan kesuburan) atau keadaan medis tertentu, serta berbeda dari kelompok yang memang berencana untuk menjadi orangtua tapi di masa depan.
Menggunakan sampel representatif dari orang dewasa di Michigan, AS, para peneliti memperkirakan bahwa sekitar 27 persen orang dewasa mengidentifikasi diri sebagai childfree. Angka ini menjadikan mereka sebagai kelompok status reproduksi terbesar kedua setelah kelompok orangtua.
Lebih penting lagi, setelah para peneliti memperhitungkan perbedaan seperti usia, pendidikan, status hubungan, dan gender, mereka tidak menemukan perbedaan yang berarti dalam tingkat kepuasan hidup antara orang dewasa childfree, orangtua, maupun kelompok non-orangtua lainnya.
Penelitian ini juga menemukan sangat sedikit perbedaan kepribadian, yang menunjukkan bahwa pilihan untuk tidak memiliki anak tidak terkait dengan profil kepribadian yang tidak sehat atau menyimpang.
Namun, studi tersebut menemukan satu fakta sosial: para orangtua umumnya mengekspresikan rasa hangat yang lebih rendah terhadap orang dewasa yang childfree. Sebaliknya, individu yang childfree menunjukkan tingkat kehangatan yang serupa baik terhadap sesama kelompok childfree maupun kepada mereka yang sudah menjadi orangtua.
Para peneliti menunjukkan bahwa sikap diskriminatif atau sentimen ini kemungkinan besar berakar dari paham pronatalisme, yaitu sebuah keyakinan budaya yang menganggap bahwa menjadi orangtua adalah satu-satunya jalur kehidupan yang diharapkan atau paling ideal bagi setiap orang.