Film Murderous Tayang Perdana di Oldenburg, Karya Neil LaBute Tuai Kritik

Film Murderous Tayang Perdana di Oldenburg, Karya Neil LaBute Tuai Kritik

FINANSIALSCOPE.ID — Film thriller terbaru Neil LaBute berjudul Murderous resmi menggelar tayang perdana dunia di Oldenburg International Film Festival. Mengusung premis soal pencurian karya antarpenulis, film berdurasi 107 menit ini disebut-sebut mengulang pola cerita yang sudah sering dipakai sineas lain. Kritik pun muncul karena alurnya dinilai terlalu mudah ditebak.

Murderous dibintangi tiga aktor utama, yakni Gia Crovatin, Thomas Sadoski, dan Jordan Baker. LaBute yang dikenal lewat In the Company of Men dan Nurse Betty ini bertindak sebagai sutradara sekaligus penulis skenario.

Premis Daur Ulang yang Terasa Akrab

Kisah pencurian karya penulis memang bukan barang baru di layar lebar. Novel laris seperti The Plot karya Jean Hanff Korelitz dan drama panggung Deathtrap milik Ira Levin sudah lebih dulu menggarap tema serupa dengan konsekuensi fatal bagi pelakunya.

LaBute mencoba memberikan variasi lewat Murderous, tetapi pendekatan yang dipilih justru dinilai tidak membawa kebaruan. Film ini disebut memiliki kemiripan kuat dengan Sleuth garapan Joseph L. Mankiewicz dan Rope arahan Alfred Hitchcock, dua karya yang diakui LaBute sebagai pengaruh.

Sayangnya, Murderous tidak mampu menyamai kualitas para pendahulunya. Film ini terasa seperti drama panggung yang kurang matang, dengan jalinan plot yang terlalu gamblang untuk ukuran thriller.

Cerita Dimulai dari Kedatangan Tak Diharapkan

Bab pertama film bertajuk "Him" berpusat pada Marian, sineas yang namanya melambung lewat film horor bertema perempuan berjudul "Murderous". Kesuksesan finansialnya tergambar dari rumah pedesaan mewah bekas pabrik, plus mobil Porsche merah klasik di halaman.

Ketenangan Marian terusik ketika Norman datang tanpa diundang. Pria itu mengaku menempuh perjalanan jauh dari Iowa hanya untuk berbicara. Keduanya ternyata pernah menempuh pendidikan di kampus yang sama, saat Norman berperan sebagai asisten dosen, dan sempat menjalin hubungan singkat.

Norman lantas menyampaikan maksud kedatangannya. Ia menuding Marian mencuri premis film yang mengangkat namanya, ide yang menurut Norman mereka rancang bersama, lengkap dengan flipbook berisi urutan adegan yang masih ia simpan.

Ketegangan antara keduanya berbelok ke ranah seksual, pola yang kerap muncul dalam karya-karya LaBute. Norman juga menyinggung perselingkuhan Marian semasa mereka berpacaran, dan Marian menanggapinya dengan tawaran yang cukup blak-blakan.

Babak Kedua dan Kritik Industri Film

Bab berikutnya berjudul "Her" menghadirkan tamu tak terduga lain, Lila, seorang perempuan paruh baya yang mengaku penggemar berat Marian. Ia datang hanya ingin meminta tanda tangan pada beberapa DVD, termasuk satu untuk anaknya.

Marian kembali dengan enggan mempersilakan tamunya masuk. Percakapan panjang soal film dan bisnis perfilman pun terjadi, membuka ruang bagi Marian melontarkan keluhan soal distributor dan pemasar film yang dinilai tidak paham selera penonton.

Bagian ini disebut sebagai momen paling personal dan jujur dalam film, mengingat posisi LaBute yang juga seorang sineas. Petunjuk soal identitas asli Lila, atau setidaknya soal cara Marian memandangnya, diselipkan dengan cara yang sangat terang-terangan.

Di atas panggung teater, jalinan plot semacam itu mungkin masih bekerja karena penonton hadir untuk dimanipulasi. Di layar, pendekatan tersebut justru terasa dipaksakan dan artifisial.

Penilaian dan Catatan Produksi

Murderous diproduksi oleh Hardball Entertainment, Bad Pelican, dan Big Time Decent Productions. Daryl Freimark bertindak sebagai produser, sementara Gia Crovatin, Neil LaBute, dan Alexander Sablow masuk jajaran produser eksekutif.

Alexander Sablow merangkap sebagai direktur fotografi, dengan Rob Bissinger dan Anita LaScala mengurus desain produksi. Durasi resmi film ini tercatat 1 jam 47 menit.

Meski para pemainnya tampil maksimal, Murderous dinilai lebih mirip latihan akting ketimbang thriller dengan plot yang tumbuh organik. Premisnya yang tipis membuat film ini akan lebih baik jika durasinya dipangkas lebih tajam.

Bagi industri film Indonesia, kehadiran karya seperti Murderous menjadi pengingat bahwa premis akrab tanpa eksekusi segar sulit bersaing di pasar festival internasional yang penontonnya makin jeli.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index