Enrico UOB: Yield Obligasi AS Rekor, SBN RI Tetap Aman

Enrico UOB: Yield Obligasi AS Rekor, SBN RI Tetap Aman

FINANSIALSCOPE.ID — Yield US Treasury tenor 10 tahun naik ke level 5,0210 persen, rekor tertinggi sejak 2007, memicu kekhawatiran di pasar keuangan global. ASEAN Economist UOB Enrico Tanuwidjaja menilai dampaknya ke Surat Berharga Negara (SBN) tidak akan sebesar yang terjadi di Amerika Serikat karena aliran dana asing sedang masuk ke Indonesia.

Tren serupa terjadi di Jepang. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) bertenor 10 tahun menembus 3,025 persen, rekor tertinggi dalam 30 tahun terakhir.

Respons Pasar Indonesia

ASEAN Economist UOB Enrico Tanuwidjaja memperkirakan kenaikan yield obligasi AS tetap akan berpengaruh pada imbal hasil SBN. Meski begitu, ia menegaskan tekanannya tidak akan separah yang dialami pasar Amerika.

"Tetapi tidak akan seperti di Amerika, karena aliran dana (asing) sedang masuk," kata Enrico dalam diskusi UOB Media Editor Circle, di Jakarta, Selasa (15/9/2026).

Catatan UOB menunjukkan dana asing sebesar USD1,6 miliar masuk ke pasar keuangan Indonesia per 7 September 2026. Arus modal itu menahan dampak kenaikan yield AS terhadap SBN.

Rupiah Ikut Menahan Tekanan

Penguatan rupiah turut memperkuat posisi Indonesia. Mata uang domestik menguat sekitar 2,1 persen dalam tiga bulan terakhir dan 1,3 persen dalam sebulan terakhir.

Kombinasi arus dana masuk dan rupiah yang stabil membuat tekanan eksternal lebih terkelola. Kapital asing mulai kembali masuk ke pasar keuangan domestik.

Yang Perlu Dicermati Investor

Bagi investor ritel pemegang SBN, kenaikan yield AS biasanya memicu kekhawatiran koreksi harga obligasi. Namun dengan dana asing yang masih mengalir masuk, tekanan jual diperkirakan tidak besar.

Pergerakan rupiah dan arus modal asing akan menjadi indikator utama dalam beberapa pekan ke depan. Keduanya menentukan seberapa besar yield AS merembet ke pasar SBN.

Pernyataan Enrico menegaskan posisi Indonesia berbeda dari AS dan Jepang. Selama aliran dana asing berlanjut, pasar keuangan domestik punya bantalan untuk menahan gejolak eksternal.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index